"Namaku Rasyid. Aku adalah seorang playmaker, dan aku akan menjadi seorang juara."
***
"Rasyid, segera lakukan pemanasan!" Pelatih memanggil Rasyid yang tengah duduk tegang menyaksikan teman-temannya kepayahan di lapangan. Nampaknya ia kehabisan ide melihat anak asuhnya terus menjadi bulan-bulanan lawan. Masih untung skor sama imbang melawan tim kelas dunia, sedang waktu tersisa 20 menit lagi.
"B-baik, pelatih!" Sontak, Rasyid terperanjak berdiri dari kursi. Jantungnya dak-dik-duk, adrenalinnya terpancing tinggi. Lantas berlari-lari kecil di pinggir lapangan. Sekali-kali berhenti mengelas, was-was melihat gawang timnya nyaris bobol oleh para pemain bintang lawan.
Sebenarnya, ini bukan hal yang tidak biasa bagi klub papan tengah seperti tim ini. Terseok-seok di lapangan, terus menerus digempur oleh serangan yang menghujani lini pertahanan. Hanya bisa bertahan dan menunggu, lantas sesekali mengandalkan serangan balik. Tak ada gunanya bermain menyerang, pertahanan tim lawan jauh lebih kokoh. Malah, serangan balik mereka lebih sering menjadi bumerang jika tim ini mencoba menyerang. Yah, memang tim inisedang terpuruk. Terombang-ambing di papan bawah klasemen, menunggu keajaiban datang.
"Sudah waktunya, Rasyid. Masuklah!" Pelatih memberi beberapa intruksi kepada pemain belia itu, berharap pemuda 18 tahun itu dapat membantu lini tengah yang kehabisan energi, yang terus-terusan ditekan oleh lawan yang ngotot menyerang.
Rasyid al-Fateir, nomor punggung 24. Berdiri menunggu di pinggir lapangan. Sebentar saja ia memejamkan matanya, mengangkat kedua tangannya, lantas berdo'a kepada Yang Maha Kuasa. Pemuda tinggi berambut klimis yang begitu percaya diri. Matanya tajam menatap hamparan rumput hijau.
Dia tahu, namanya telah dipanggil. Ini adalah waktunya, waktu untuk menunjukkan pada dunia. Seorang pemuda baru saja menginjakkan kakinya di lapangan untuk menjadi seorang jawara, untuk menjadi legenda. Tak ada keraguan sama sekali. Jantungnya meletup-letup, tidak sabar lagi. Hingga waktunya tiba, ia memasuki medan pertempuran.
Rasyid sumbringah, kali ini ia berhasil mewujudkan mimpinya untuk berlari bersama pemain-pemain profesional di laga resmi. Kini, masalah baru harus dihadapinya. Formasi 3-4-3 lawan terlalu sempurna, kecepatan sayap dan umpan-umpan lini tengah merekapun selalu tepat. Pemain belakang timnya sudah kelelahan, itu artinya ia harus membantu pertahanan.
Semangat mudanya berkobar, terus berlari mengejar bola, mencoba untuk memotong serangan lawan. Rashid selalu menjadi orang pertama yang menahan serangan dari pemain gelandang lawan, memberi kesempatan bagi pemain lain untuk menjaga ketat penyerang lawan. Alhasil, strategi ini berhasilū membuat serangan lawan mengalami deadlock.
Namun, insting seorang playmaker Rasyid sudah tak tertahankan lagi. Begitu serangan lawan dipotongnya, ia langsung tengok kanan-kiri, mencari ruang kosong yang ditinggalkan lawan, mencoba mengalirkan bola dan membuat perbedaan. Sampai akhirnya, keajaiban terjadi.
Bola terhenti di kaki pemuda itu, tanpa pikir panjang langsung meliak-liuk, memperlihatkan beberapa skill ala samba yang ia kuasai. Tujuannya ada tiga. Pertama, memecah konsentrasi lawan. Kedua, menarik pemain lain untuk mendekatinya, yang artinya membuat tujuan ketiga terpenuhi, yaitu membuka ruang bagi rekannya berlari melewati pertahanan. Dan itu berhasil. 3-4 pemain berhasil dikelabui pemuda yang kini lebih mirip anak balita yang sedang memainkan karet kesayangannya. Ngeyel, tak mau disentuh. Begitu ada kesempatan, umpan lambung ia hempaskan ke depan.
Dengan jenius, ia arahkan bola itu diantara dua pemain jangkung lawan. Membuat keduanya sama-sama kebingungan, siapa yang hendak mengambil bola itu. Ketika keduanya memutuskan untuk menyundulnya, mereka malah bertabrakan. Sempurna! Ruang kosong tercipta. Si nomor 11, yang dari tadi menunggu umpan itu berlari sekencang mungkin, melewati 1 pemain belakang tersisa yang kalah cepat. Bola bergulir tepat di kakinya, lantas disambarnya sekuat tenaga ke arah pojok kanan atas. Sulit untuk ditepis kiper manapun.
Kejadian itu begitu cepat, semua orang dibuat terpana oleh keajaiban yang baru saja terjadi. Jala itu bergetar. Seisi stadion bergemuruh. Gol untuk tuan rumah, tepat di menit ke 90. Semua orang merayakan kemenangan itu, kemenangan penting yang bisa membuat mereka terhindar dari degradasi.
Semua itu berkat kejeniusan si playmaker muda. Harapan tim di masa depan.
***
"Aku tahu kau berbakat, anak muda." Pak pelatih menepuk-nepuk pundak Rasyid.
"Aku bangga padamu." Lanjutnya.
Rasyid senang bukan kepalang. Baru kali ini ia dipuji oleh pak pelatih. Sebelumnya, orang tua itu lebih sering membentaknya. Ia memarahinya ketika anak asuhnya itu melakukan kesalahan, walau hanya sedikit. Kalaupun sekali berbuat benar, ia masih saja disemprot dan dipaksanya untuk melakukan lebih baik. Ya, pelatih bertangan dingin itu tidak kenal ampun dan tidak pandang bulu. Semua pemain sama, tak ada pemain bintang, tak ada pemain buangan. Ia hanya menilai anak asuhnya lewat sesi latihan yang diterapkan. Siapa yang punya nilai bagus, dia layak masuk ke tim inti.
Sebenarnya, bukanlah nilai Rasyid yang buruk mencegahnya masuk tim inti. Anak muda itu selalu mendapat nilai yang bagus di setiap sesinya, terkadang melewati nilai senior-seniornya. Hanya aja, pelatih itu tahu, masih banyak yang harus ia kembangkan sebelum bermain penuh selama 90 menit.
"Hei, anak muda. Kerja yang bagus. Maksudku, olehku. Kalau bukan karena golku, kita akan bermain di liga 2 musim depan. Haha.." Pemain no. 11 yang bar saja mencetak gol penting tadi, Andre, sambil menghampiri Rasyid yang tengah terduduk di pojokan ruang ganti. Rasyid hanya balas tertawa sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Haha.. Bercanda, kawan. Aku suka umpanmu tadi. Aku harap kamu bisa terus bermain sepertu itu nanti." Andre ikut duduk di sebelah Rasyid.
"Terima kasih atas dukunganmu, Andre." Rasyid kali ini membalas dengan anggukan takzim.
"Heh.. Tadi itu hanya kebetulan. Kalau tadi aku tidak diganti, aku pasti bisa melakukan hal yang sama, lebih keren malah." Celetuk seorang pria yang terlihat masih muda, sambil bersender di lemari pakaian yang menempel di dinding.
"Ah, kau ini egois, Dani. Memang kamu jago membuka ruang, tapi jarang sekali kamu membagi bolanya pada orang lain. Mending kalau masuk, menyentuh net pun tidak. Haha.." Andre membalas celetukan itu dengan gurauan yang nadanya terdengar agak sinis.
Dani mendekati Andre dengan tatapan tajam. Andre berdiri dari tempat duduknya, membalasa menatap wajah Dani dengan senyum sinisnya, senyum ala psikopat yang sungguh mengerikan.
"Oy kalian berdua, sudahlah, jangan bercanda terus!"
Kapten tim, Ronal, smenejak tadi memperhatikan, memisahkan mereka. Sedangkan Rasyid tak mau ikut campur, walau sebenarnya dia memang terlibat di sana. Namun, ia menanggapinya dengan santai. Yang penting, tim sudah lolos, besok-besok aku masih bisa bermain di liga teratas lagi, pikirnya.
"Baiklah, selanjutnya aku harus membuktikan bahwa aku siap menjadi pemain inti. Aku tahu, aku bisa!"