Sabtu, 23 November 2019

Gawang : Bintang Muda, Bab 5

Seminggu telah berlalu. Rasyid menghabiskan waktu-waktu kosong bersama Andre, kebanyakan untuk melatih kebugaran fisiknya. Mereka menggunakan fasilitas gym yang berada di dalam gedung tepat di seberang apartemen para pemain. Pemain lain pun mulai berdatangan. Yang paling cepat adalah sang kapten. Sedangkan Dani adalah pemain yang terakhir datang. Kemudian, mereka senua bergabung dalam latihan fisik. Apartemen dan ruang-ruang latihanpun ramai kembali.

Esok harinya, pelatih tiba dan langsung mempersiapkan latihan perdana sore nanti. Ia menyuruh anak asuhnya untuk segera bersiap-siap. Tak ada satupun yang boleh berleha-leha. Tak ada yang boleh terlambat. Apalagi, mengingat lapangan untuk latihan pun berada di sebelah apartemen. Pak Pelatih memang sangat mengutamakan kedisiplinan. Bahkan, kedisiplinan itu diterapkan dalam pola permainan mereka, harapannya tim ini akan menjadi tim yang sulit ditembus penyerang lawan.

"Hei, Sid. Kamu sudah siap?" Tanya Andre yang berkunjung ke kamar Rasyid.

"Oh, tentu saja." Jawab Rasyid matang, sambil meraih sepatu pull khusus yang terletak di bawah ranjang. Sepatu itu diketahui bermerk sepatu nasional dengan warna biru muda mengkilat. Tampak serasi dengan kaos latihan tim yang juga berwarna biru langit.

"Baguslah, kamu selalu siap kapanpun dibutuhkan. Omong-omong, tinggimu bertambah sekitar 7 atau 8 sentimeter ya selama latihan kemarin?" Kata Andre sambil berdiri mensejajarjan pundaknya dengan pundak Rasyid. Kin, tinggi Andre yang berkisar 183 cm kini hanya beberapa senti lebih tinggi dari anak muda itu. 

"Bukan kemarin saja aku latihan, Dre."

"Maksudmu, waktu liburanpun kamu sempat-sempatnya berlatih?"

"Ya, begitulah."

"Bagus kalau begitu. Aku tunggu di bawah ya." Andre yang sudah siap sedari tadi sudah melangkah melewati pintu, lalu berbelok ke kanan melalui tangga. Meskipun tersedia lift, tapi para pemain diharuskan memakai tangga ketika akan dan setelah berlatih. 

Ketika Rasyid hendak keluar, seorang rekan berdiri di depan pintu kamarnya, hendak masuk ke dalam.

"Hei, Rasyid, aku khawatir aku harus mengganggumu sebentar." Ucap seorang pria dewasa yang berusia 25 tahun sambil berdiri tepat di depan pintu. Tubuhnya agak gempal namun padat, berkulit sawo gelap, dengan rambut pendek ala tentara. Dialah Sutikno, seorang gelandang bertahan tim yang terkenal garang di lapangan.

"Oh iya, kemari, masuk saja." Ucap Rasyid dengan santai.

"Rasyid, aku khawatir kamu tidak akan sendirian lagi di kamar ini malam nanti." 

"Oh, begitukah?" Rasyid memang menempati kamar di apartemennya sendirian saja sejak dipanggil ke tim utama. Biasanya, setiap kamar diisi oleh 2 orang pemain. Namun, jumlah pemain menjadi ganjil. "Maksudmu, ada pemain baru ya?" Rasyid mencoba menebak.

"Tepat. Dan dia akan menempati kamarmu. Kata si kapten, orangnya suka kebersihan. Jadi, dia minta kamu untuk segera membereskan kamarmu. Yah, nampaknya tidak terlalu buruk juga, sih." Kata si gelandang sambil menyapu seluruh kamar dengan matanya. Kamar yang tergolong kecil, hanya muat satu ranjang besar, satu lemari dua pintu, dan menyisakan beberapa ruang kosong untuk menyimpan rak sepatu, koper dan lain sebagainya. Tapi Rasyid membuatnya rapi. Semua tersusun pada tempatnya. Kecuali sebuah celana pendek yang tergantung di pegangan lemari.

"Semua, kecuali yang itu." Sambil menunjuk ke arah celana itu.

"Oh iya, he-he." Rasyid tertawa kikuk. "Tapi, tak akan ada pemain yang keluar kan?" 

"Entahlah, Sid." Mendengar jawaban itu, Rasyid mendesah pelan.

"Sudahlah, nanti juga pasti ada kabarnya. Ayo, kita turun." Tikno sudah bergerak duluan.

"O-okee.."

***

Latihan sesi pertama sore ini diawali dengan pemanasan kecil. Dengan dipimpin assisten pelatih, Coach Roger, mereka melakukan gerakan-gerakan peregangan bersama. Sebelum melahap porsi latihan yang berat, otot-otot mereka harus menyesuaikan terlebih duhulu. Barangkali, beberapa dari otot-otot itu telah berubah menjadi lemak sehingga kehilangan fungsinya. Akan tetapi, nampaknya tidak. Para pemain terlihat segar bugar. 

Pun dengan Rasyid, tatap matanya menyala-nyala. Setiap gerakan melentukkan badan dipraktekkannya dengan sentakan yang bersemangat. Anak itu sudah tak sabaran ingin segera memulai musim baru. Dengan semangat yang baru, harapan yang baru, demi mengejar mimpi yang lama tersimpan.

Serangkaian pemanasan diakhiri dengan lari-lari kecil mengelilingi lapangan yang luasnya setengah lapangan bola asli. Mereka berlari-lari sambil mengobrol akrab. Beberapa meleparkan candaan, yang lainnya ikut tertawa. Ada yang saling dorong, sengaja menyenggol badan tingginya Andre, kemudian Andre sengaja menghepaskan tubuhnya dan menabrak pemain lain didepannya. 

Sambil sesekali menghindar, Rasyid ikut tertawa bersamanya. Teringat pesan Andre agar selalu membaur dengan pemain lainnya. Sebelumnya, Rasyid jarang ikut bercanda seperti itu. Alasannya, ia tak mau dinilai pelatih sebagai seorang yang tidak serius ketika sedang berlatih. Tapi kalau dipikir-pikir, apa salahnya? Toh mereka juga tak pernah kena semprot.

Ketika asyik berlari beriringan, seseorang menabrak bahu Rasyid dari samping. Karena lengah dan saking kerasnya, ia terhuyung sampai terjatuh dan mengerang. Rasanya seperti baru saja ditabrak truk Pertamina. Tak terlihat siapa yang melakukannya. Yang jelas, siapapun itu, ia tak niat bercanda. Ia hendak mencari wasit hendak protes, refleks pemain bola. Sayang, tak ada wasit ketika berada dalam sesi latihan. Begitupun pelatih yang sedang berbincang serius dengan assistennya, nampaknya tidak memperhatikan. Rasyid tertinggal di belakang, Andre menghampirinya.

"Kamu tidak apa-apa?" Tanya Andre sambil mengulurkan tangan.

"Aku.. Baik saja." Dia berdiri, lanjut mengejar rombongan.

"Hati-hati dengan Dani." Kata Andre sedikit berbisik.

"Oh, oke." Dia sekarang tahu siapa yang mengusilinya.

Setelah beberapa putaran yang sukses melumasi otot-otot dengan keringat, assisten menghampiri mereka, lalu membimbing anak asuhnya melanjutkan sesi latihan. 

Sesi itu diawali dengan lari bolak-balik melewati garis. Para pemain diharuskan melakukan sprint terbaiknya secara bergantian. Mereka dibagi dua baris, setiap baris dibagi dua kelompok yang saling bersisian. Masing-masing orang dari setiap baris beradu cepat. Kali ini, Rasyid bersisian dengan Dani. Dia berjaga-jaga, takut dihempaskan lagi seperti sebelumnya. Akan tetapi, ia menepis pikiran itu. Ia tak mau berprasangka buruk pada Dani. Barangkali ia terpeleset, atau apalah. Dan, semua berjalan mulus, dan ia lebih cepat menginjak garis finish sedetik saja unggul dari Dani.

Sesi selanjutnya adalah lari zig-zag. Kemudian disusul dengan lari halang lintang dan dribble zig-zag. Sepertinya, latihan pertama ini dikhususkan untuk mengembali sentuhan para pemain. 

Di tengah-tengah kesibukan itu, terlihat seorang pria tinggi dengan sepatu olahraga dan kaos hitam polos terlihat berjalan bersama seorang yang lebih tua darinya, rambutnya tampak berwarna putih. Mereka berjalan dari gerbang depan menuju tempat di mana pelatih berada, di sisi lapangan tempat biasa ia memantau anak asuhnya berlatih.

Kedua orang asing itu bersalaman dengan pelatih. Orang tua berambut putih tampak banyak berbincang akrab. Keduanya mungkin memiliki umur yang tak jauh terpaut berbeda. Mungkin saja mereka seangkatan, sehingga mereka tampak nyambung sekali di sana.

Si pria tinggi hanya berdiri diam diantara keduanya. Nampaknya, ia hanya memperhatikan obrolan mereka. Sesekali, ia memandang ke arah pemain-pemain di lapangan yang luas. Ia terlihat antusias. Rasyid sekali mendapatkan tatapan matanya. Pandangan orang itu sangat tajam, jauh lebih tajam dari pedang yang dipegang Kapitan Patimura dalam uang lembaran lama pecahan seribu rupiah yang jadul. Namun, instingnya mengatakan, orang itu akan berperan banyak dalam kehidupannya.

Tak terasa, beberapa jam kemudian latihan usai. Pria misterius dengan orang tua itupun sudah lenyap entah ke mana. Rasyid tidak sempat memperhatikannya lagi. Semua pemainpun kembali ke penginapan.

Di saat membuka pintu kamarnya, di sinilah ia mematung dan terkejut. Di dalam sana, sudah berdiri seorang pria tinggi sedang menatap keluar jendela yang dibukanya selebar mungkin. Sesaat, Rasyid menatap punggungnya, sampai pria itu berbalik ke arah Rasyid. Pandangan mereka bertemu, saling menatap tajam. Rasyid semakin mematung. Begitu kuat aura yang keluar dari pria itu. Aura yang menakutkan, begitu mengeksploitasi.

"H-Hai.." Rasyid berusaha untuk menyapa ramah. "Kamu.. Pemain baru itu ya?" Akhirnya, kalimat itu keluar dari mulutnya.

Si pria hanya mengangguk kecil. Senyum tipis terlihat di bibirnya, lalu ia berbalik lagi ke arah pemandangan di jendela. Rasyid menelan ludah. Ini akan menjadi malam yang panjang baginya. Panjang sekali.

Selasa, 19 November 2019

Gawang : Bintang Muda, Bab 4

Dua pekan penuh telah Rasyid habiskan di rumah kecil peninggalan ayahnya, yang kini dihuni oleh keluarga kecil pamannya itu. Sebenarnya, setiap hari selama dua pekan itu, ia menjalani hari-hari yang nyaris sama. Ia bangun dini hari, mendirikan shalat, lalu jogging sambil menggiring bola. Nyaris setiap malam pula, ia bermimpi bertemu seorang wanita berjilbab yang sama. Ia merasa aneh, sebelumnya ia tak pernah memimpikan siapapun dalam tidurnya sesering itu. Biasanya sih, selewat ia bermimpi Andre yang jail menukar tali sepatunya sehingga berbeda warna, atau bermimpi melihat sekawanan Pterodactyl menyerang penonton ketika dirinya sedang berlaga.

Ia pun mencoba menelusuri jejak di hari pertama, berharap bertemu wanita yang sama, namun hasilnya nihil. Ia hanya menemukan lubang kehitaman di dekat balai desa, bekas roda motor Mei yang terkubur di sana. Selewat, ia juga mendengar keluhan warga yang mendengar suara bising di sana. Rasyid hanya tertawa kecil mendengarnya.

Lantas, ia berpamitan kepada keluarga kecil di rumah itu, kembali ke ibukota agar bisa berlatih lebih awal. Mungkin, paling awal daripada yang lain. Mengingat liga baru akan bergulir dalam 2 bulan ke depan, dan sesi latihan dimulai satu minggu lagi.

Bukannya tidak betah. Hanya saja, ia tak mau merepotkan keluarga kecil itu. Lagipula, tak banyak yang bisa ia lakukan di sana. Selain jogging di pagi hari (sambil melihat-lihat di gang sempit dan balai desa, berharap barangkali ia bisa bertemu wanita kemarin lagi, yang belakangan selalu muncul di dalam mimpinya), menonton anak-anak kampung bermain bola di lapang desa (sekali-kali Rasyid ikut bermain sambil mengajarkan mereka beberapa trik yang membuat anak-anak itu berdecak kagum), juga sekali-sekali membantu paman melakukan pekerjaan berat (angkut sana-sini, apapun yang bisa membuatnya encok di malam harinya), tak ada yang terlalu istimewa selain kuburan ayah dan ibunya. 

Ya, sebelum berangkat, Rasyid menyempatkan mampir ke sana, membacakan do'a-do'a terbaik sambil menyampaikan rindu pada keduanya. Pun, Rasyid meminta ridho sang ayah, berharap musim depan akan berjalan lebih baik dan lebih baik lagi. 

Dia memandangi kedua gundukan tanah 2×1 itu, mengelus-ngelus batu nisan kedua orangtuanya yang masih berdampingan satu sama lain. Berbagai kenangan sempat muncul di sana, meski tanpa adanya kenangan dari sang ibu. Hari di mana ia memenangkan lomba matematika, hari pertama ia berbohong kepada ayah tentang ekskul sepakbolanya, dan hari pembenaran, ketika ia mengatakan hal sejujurnya pada ayahnya. Kemudian, ia mengingat janjinya. Ia akan memberikan yang terbaik, menjadi pemain terbaik, berharap sang ayah tersenyum lebih kebar di alam sana.

Selepas membersihkan rumput-rumput liar dan daun-daun kering dari kuburan itu, ia mengucap salam lalu beranjak pergi, menapakkan kakinya langkah demi langkah menuju mimpi terbesarnya, mengangkat trofi juara sebanyak-banyaknya.

Dalam perjalanan, ia dihubungi Andre, mengabari bahwa ia sudah berada di apartemen di ibukota. Dia akan membicaran permasalahan kontrak yang akan habis pertengahan musim nanti. Ia berharap manajemen mau memperpanjang kontraknya. Karena jika tidak, ia akan dijual ke klub lain sebelum pertandingan dimulai nanti. Yah, ia teringat perbincangan di kedai kopi lalu, bicara tentang masa lalu Rasyid, partner, masalah di klub, dan.. Oh iya, omong-omong, ia tak tahu menahu masalah yang kini dihadapi Andre. Mungkin seharusnya, ia mulai banyak bertanya soal itu. Setidaknya ia akan memiliki banyak waktu untuk melakukan itu.

Hari Senin, jalanan padat sekali. Sampai-sampai membutuhkan waktu 3 jam untuk hinggap di ibukota, 1 jam lagi untuk sampai di kamar apartemen nya. Siang hari, diluar panas sekali. Ia melemparkan tasnya ke sembarang tempat, lalu merebahkan dirinya diatas kasur empuk ala hotel bintang 4. Dinyakalannya AC, dan segera udara dingin membuat segalanya terasa lebih sejuk dan ringan. 

Dia memejamkan kedua matanya sebentar, mencoba terlelap. Ketika ia membuka matanya kembali..

"Whoaaa!!!"

"Eh-eh, maaf mengagetkanmu, Sid." Tiba-tiba saja Andre sudah berada di sampingnya, terduduk tempat tidurnya. "Tadi aku melihatmu lewat dari kamarku, ya sudah, langsung aku ikuti saja." Jelasnya dengan santai.

"Tidah bisakkah menunggu beberapa menit dulu, Dre?" Tidak ada jawaban dari Andre, ia hanya diam seribu bahasa sambil menatapnya, membuat Rasyid gugup.

"Baiklah, baiklah, tunggu sebentar, aku mau mencuci muka dulu." Rasyid melangkah berat menuju saluran air terdekat. Ia sebenarnya seorang yang menyukai kesendirian. Ia mudah akrab, namun teman yang benar-benar akrab dengannya bisa dihitung jari. Nampaknya, kedekatannya dengan Andre akan menciptakan sesuatu yang baru dalam hidupnya. Tak lama, ia kembali dengan wajah lebih segar, siap mendengarkan keluhan sabahat barunya itu.

"Baiklah, Andre. Aku siap mendengarkan."

***

Andre membenarkan posisi duduknya di ranjang yang empuk itu, mencoba lebih rileks, lalu mulai bercerita panjang lebar. Rasyid mendengarkan di sebelahnya, sambil menyuguhkan buah-buahan dari kampungnya berupa beberapa butir jeruk diatas piring.

Dia memulai cerita dari awal karirnya di klub. Andre awalnya adalah lulusan akademi klub lain, kemudian bermain di liga junior. Setelah beberapa tahun, Andre dikontrak tim ini dengan durasi 3 tahun karena melihat permainannya yang apik sebagai seorang striker jangkung, di samping usianya yang masih muda saat itu, tentunya sangat menjanjikan bagi tim. Tanpa membutuhkan waktu lama, Andre menjadi pilihan utama di pos penyerangan tim. 

Dua musim pertama bahkan dapat dikatakan sangat produktif bagi Andre, di mana ia selalu mencetak dua digit gol di setiap musimnya. Hal itu membawa berkah yang besar bagi tim. Namun, kegacorannya menurun di musim ketiga. Hal itu diawali dengan adanya perpecahan di dalam tim. Permainan tim mejadi acak-acak, yang juga berimbas pada produktifitas para pemain, termasuk Andre. Untungnya, manajemen masih memberi kesempatan bagi Andre dengan perpanjangan kontrak satu tahun lagi.

Namun, bukannya lebih baik, keadaan semakin buruk. Lebih tepatnya di musim lalu, ketika beberapa pemain didepak di pertengahan musim dan tim ini hampir terdegradasi. Kontrak Andre akan habis dalam beberapa bulan lagi, membuat manajemen memiliki pilihan untuk menjualnya pada klub lain. Padahal, dia sendiri sudah merasa betah, dan ia ragu apakah ada tim yang mau membelinya. Jika tak ada, ia bisa menjadi pengangguran, atau lebih buruknya, bermain di liga kasta bawah.

"Yah.. Kau tahu lah, Sid. Sepakbola di zaman sekarang sudah seperti roda bisnis. Beli pemain murah, dijual secara mahal, tanpa mempedulikan prestasi tim. Kau sendiri tahu kan, aku ini masih hebat, masih produktif. Aku yakin, bersamamu aku bisa mengangkat performa tim ini lagi." Andre menghela nafasnya sebentar. "Aku tidak mau meninggalkan klub ini, yah.. Tidak dalam waktu cepat, itupun jika tidak pindah ke klub yang lebih besar."

"Sepertinya, aku mengerti soal itu. Juga tentang klub besar, itu mimpiku juga." Rasyid mengangguk prihatin. "Setidaknya, kau masih punya beberapa bulan, bukan? Kontrakmu akan habis pertengahan musim nanti, ya kan?" Rasyid terlihat membesarkan matanya, mengharapkan jawaban "ya".

"Iya, pertengahan musim nanti. Tapi, tetap saja, aku bisa dijual kapanpun, apalagi klub memiliki hak penjualan sepenuhnya. Mereka yang menentukan masa depanku. Juga kamu, kurasa."

"Nah, kalau itu.. Kurasa, aku tidak setuju, Dre. Masa depan ditentukan oleh diri kita sendiri, oleh apa yang kita lakukan. Orang lain pun hanya memainkan peran mereka masing-masing." Rasyid mengangguk.

"Wah.. Aku baru melihat gaya bicaramu yang seperti itu, Sid. Itu keren sekali." Jawab Andre sambil tersenyum.

"He-he.." Tawa garing Rasyid. "Begini saja, kita akan menghadap manajemen lagi nanti, lalu kau akan membuktikan dirimu sendiri. Yah, aku juga bisa membantu, barangkali." Rasyid mengatakan itu dengan penuh keyakinan.

"Terima kasih, sobat." 

Keduanya mengangguk, menepiskan kepalan tinju masing-masing. Tanda siap bekerja sama.

"Baiklah, kalau begitu aku akan kembali ke kamarku. Selamat beristirahat, sobat." Kata Andre sambil berjalan keluar.

"Oke, silahkan." Jawab Rasyid, sambil melihat jeruk-jeruk di piringnya yang sudah berkurang setengahnya. Yang ternyata, dikantongi Andre. Rasyid menepuk jidatnya.

Sabtu, 09 November 2019

Gawang : Bintang Muda, Bab 3 (Part 3)

Rasyid cepat-cepat mengambil tindakan. Dia terus melangkah mendekati kedua lelaki itu. Setelah jarak mereka dirasa cukup, ia melambungkan bola hampir satu meter tingginya. Kakinya mengambil ancang-ancang kuat. Pada saat yang tepat, dihempaskannya bola itu menggunakan kaki terkuatnya.

Dia melakukan tendangan setengah voli dengan kaki kanannya. Bola melesat seperti peluru di tengah remang-remang cahaya bulan. Hanya saja, bola itu sedikit melintir diudara, lalu tepat menghantam kepala bagian belakang lelaki di sebelah kiri. BLETAK!!! Lelaki itu terhuyung-huyung, lalu terjatuh. Pria di sebelahnya terkaget-kaget, begitupun wanita di depannya.

Namun, kejadian itu belum selesai sampai di sana. Bola itu berputar dan terus memantul kembali ke arah Rasyid. Pemuda itu berlari cepat ke arah bola yang memantul-mantul, lantas menghajarnya lagi dengan kaki kirinya. Bola itu kembali melesat, lebih tajam. Menghujam pria satunya lagi yang sedang berjongkok melihat keadaan temannya yang tergelatak tak berdaya. Nasib, pantatnya malah menjadi sasaran bola, lalu ia meluncur jatuh tepat diatas tubuh lelaki pertama.

Rasyid berjalan mendekatinya.

"Jangan macam-macam! Pergi sana!" Rasyid mencoba membentak keras. Si wanita nampaknya sudah menjaga jarak beberapa langkah di depan.

Tak lama, kedua lelaki itu berusaha berdiri, meski masih terhuyung-huyung. Kini, gelagatnya terlihat lebih jelas. Yang satu, pria tinggi bertato dengan rambut panjang sedikit acak-acakan. Entah kapan terakhir kali ia berkeramas, namun tampaknya, keluarga kutu sudah hidup rukun di sana. Yang satu lagi, pria dengan rambut gundul dengan tato, di tangan kirinya. Soal gambar apa yang terlihat di sana, sepertinya kuda jingkrak yang bersayap. Kedua mata mereka merah, bau tak enak semerbak meracuni udara.

"Pergi!" Rasyid sekali lagi mencoba mengeluarkan amarahnya. Demi melakukan hal itu, sepertinya ia harus mengeluarkan seluruh emosi dan kebencian yang sudah terpendam bertahun-tahun lamanya.

Akhirnya keduanya berdiri tegak, sambil berpegangan pada tembok bata, lantas pergi melewati Rasyid begitu saja. Mereka tak berani menatap Rasyid, tapi anak muda itu sebaliknya, menatap galak. Bau semakin menyeruap, sampai-sampai ia menutup hidung dengan kedua tangannya. Langkah mereka lunglai seperti mayat hidup, menggapai-gapai tembok di sebelahnya. Kalau saja suara erangan yang keluar meraka bukanlah "aduuuuh" atau "aaaw" panjang, tentunya mereka sudah mirip zombi-zombi di dalam game Resident Evil.

Rasyid kembali melangkah ke depan, mencari-cari bola kesayangannya. Ternyata, bola itu kini ada di hadapan wanita tadi. Wanita itu nampaknya baru berusia 20-an. Ia mengenakan celana panjang, rambutnya terurai sampai ke bahu, jaket levis berwarna biru melekat di badannya, dan kakinya dihiasi sandal yang datar. Ia sudah berbalik dari tadi, menatap Rasyid dengan wajah.. Entahlah, masih terlalu gelap dan jauh.

Wanita itu meraih bola yang berada tepat di bawah kakinya. Lantas, Rasyid mendekatinya.

"Terima kasih, mas.. Eh, dek." Wanita itu memberikan bolanya dengan dua tangan. Rasyid menerima bola itu, juga dengan kedua tangannya, sampai-sampai keduanya sempat bersentuhan.

"Eh, iya, kak.. Kembali." Rasyid tersenyum kikuk. Pertama, karena ia dipanggil dek, dan salahnya, ia memanggil kak. Padahal, usianya sudah 19. Ia berpikir, mungkin, wanita itu lebih tua dari kelihatannya, atau memang wajahnya terlalu imut untuk seorang pesepakbola. Dan kedua, ia baru saja menyentuh sesuatu yang hangat dan lembut. Dia sadari, itu adalah tangan wanita di depannya.

"Hati-hati, laki-laki tadi mabuk." Akhirnya, setelah beberapa lama berdiri diantara dingin kecanggungan, Rasyid mengucap beberapa kata. "Mereka sering menggangu warga di sekitar sini, hati-hati."

"Iya, aku tahu, sih. Makanya, terima kasih banyak ya. Aku sudah dag-dig-dug dari tadi." Jawab si wanita. Kini, Rasyid bisa melihat wajahnya, mencoba mengenali. Tampaknya, wanita itu bukan warga sini.

"Bukan asli sini ya, kak?"

"Bukan, aku cuma menginap beberapa malam di kampung ini. Kepentingan keluarga."

"Oh, pantas saja. Orang-orang sudah jarang lewat jalan ini. Soalnya, selain gangguan orang-orang kacau tadi, katanya, yah.. Rumah kosong ini, ada penunggu-nya." Demi mendengar kalimat itu, si wanita langsung bergidik. Bulu-bulu halusnya berdiri.

"Oh, begituya. Kalau begitu.. Arah ke balai desa, lewat mana ya? Aku menyimpan motorku di sana. Dan.. Sepertinya aku tersesat."

"Oh, itu sekitar 10 menit dari sini. Kebetulan, saya juga mau ke arah sana." Rasyid menjawab.

"Syukurlah.. Eh, oke, ayo." Wanita itu sudah tidak sabar melangkahkan kakinya, bahkan lebih cepat daripada sebelumnya. Rasyid mengikuti di belakangnya.

Setelah melewati gang gelap itu, wanita itu melambat, menyetarakan langkahnya agar sejajar denga Rasyid.

"Jadi.. Bermain bola dini hari?" Wanita itu memulai kembali topik pembicaraan.

"Ah.. Sebenarnya, olahraga saja." Dia asal menjawab.

"Begitu ya. Omong-omong, siapa namamu? Kan tidak enak, kita berjalan berduaan di pagi buta, tapi tidak kenal sama sekali."

"Oh iya, namaku Rasyid. Dan.. Kakak?" Mereka berjalan sambil bertatapan muka, tanpa takut tersandung atau menginjak sesuatu.

"Namaku Meilania, teman-temanku biasa memanggilku Mei, atau Nia." Wanita itu kini nampak lebih akrab, membuat Rasyid merasa lebih canggung.

"Oh, kak Mei ya."

"Panggil Mei saja."

"Baiklah, He-he.."

Yah, perkenalan yang cukup aneh bagi seorang Rasyid, apalagi sebelumnya ia tak pernah seperti itu. Berjalan berdua di jalanan sepi. Dengan seorang wanita pula.

"Baiklah, Rasyid. Kita sudah sampai." Kata wanita itu, membuyarkan lamunan Rasyid.

"Benarkah? Oh-iya." Rasyid menghentikan langkahnya. Menatap sebuah bangunan persegi yang dibuat agak tinggi. Di pinggirannya, tepat di bawah pohon, beralaskan tanah yang sedikit becek, terletak sebuah motor berwarna pink. Rasyid menebak-nebak, itu adalah motornya Mei.

"Terima kasih ya, kamu pria yang baik, Rasyid." Pipi Rasyid memerah dibuatnya. "Iya, maksudku.. Kau tahulah. Aku harus kembali ke ibukota, mengejar waktu. Kita berpisah di sini, ya."

"Oh, iya kalau begitu, hati-hati Mia." Pemuda itu merasakan sesuatu yang aneh. Tapi, ia tahu pasti, entah dari mana, suatu saat nanti mereka akan bertemu lagi.

Ia masih berdiri di sana, memperhatikan wanita itu mempersiapkan diri di atas motornya. Terlihat, Mei memakai sarung tangan, helm, dan masker. Perjalanan yang wanita itu tempuh akan lumayan panjang, sekitar 1 jam perjalanan menggunakan kendaraan roda dua. Tentunya, jika ia berhasil mendahului kemacetan ibu kota.

Tak lama, Mei menstarter motor itu. Mesin motor mendesing, mulai menyala. Lampu kendaraan bersinar terang, namun jelas-jelas tidak seterang apa yang dirasakan Rasyid saat ini. Wanita itu melihat ke arah Rasyid, nampaknya sadar ia masih diperhatikan, lalu ia mengangguk kepadanya. Mei menarik gas dengan tangan kanannya, bersiap mengarungi pagi.

"Eh, tunggu, Mei-" Rasyid tahu ia sudah terlambat. Tadinya, ia ingin meminta nomor kontak atau apa.. Tapi yang terjadi adalah, motor Mei melintir di atas tanah licin, nyaris terjatuh. Rasyidpun tersentak, berusaha menghampiri motor yang setengah miring itu secepat ia mengejar bola liar di depan gawang.

"Kamu tidak apa?" Tanya Rasyid sambil memegangi wanita itu, membantunya menstabilkan motornya.

"Tidak kok, hanya melintir. He-he.." Tawanya itu tertutup masker, menutupi rasa malunya.

"Oke kalau begitu. Sekarang, coba lagi ya, hati-hati dalam.." Belum lagi Rasyid menyelesaikan kalimatnya, Mei sudah menarik gas. Roda motornya berputar penuh, semakin cepat malah, di atas tanah yang kini menggembur.

"Mei!" Rasyid mencoba memanggil wanita itu ditengah raungan mesin motor. Sepertinya Mei hampir menggila, lumpur menciprat ke mana-mana. Ia terus memaksa menarik gas, motornya semakin stuck, rodanya semakin terbenam, membuat Rasyid tertawa sekaligus prihatin melihatnya.

Tadinya, ia hendak membantu mendorong, akan tetapi keajaiban muncul beberapa menit kemudian. Lumpur menciprati wajahnya dengan telak. Saat ia sadar, Mei sudah melaju dengan hanya membunyikan klaksonnya sekali. Mungkin seharusnya, hal itu berarti "Maaf!"

Seiring menghilangnya suara kendaraan tadi, matahari sudah muncul.

Kamis, 07 November 2019

Gawang : Bintang Muda, Bab 3 (Part 2)

"Apa kabarmu, nak?" Pria itu bertanya sambil menepuk-nepuk pundak Rasyid. Bapak berkumis itu adalah pamannya, adik dari sang ayah. Wajahnya terlihat cerah sekali melihat keponakan kebanggannya sudah pulang.

"Baik, Mang. Amang terlihat bugar sekali, ya. Kemana si Bibi?" Rasyid bertanya.

"Iya lah, harus begitu. Oh iya, Bi Ema sedang di warung, sebentar lagi ia pulang. Nanti kita makan siang bersama."

Tak lama, Bi Ema datang bersama anaknya yang baru berusia 3 tahun. Anak itu lantas mencoba mengenali, siapa pemuda yang terduduk di kursi ruang tamu bersama ayahnya. Rasyid mengeluarkan mainan tadi, lalu si anak langsung tertawa gembira. Rasyid memangku anak itu, membantunya di kursi sebelahnya. Membiarkannya memainkan bus pemberiannya, dengan senang anak itu berkata "Maacih a Acid!"

Siang itu mereka habiskan dengan mengobrol, lalu makan-makan. Pamannya mengaku turut senang dengan hasil timnya kemarin, apalagi saat melihat keponakannya bermain. Rasyid sedikit merona, setidaknya ia merasa berhasil membanggakan pamannya. Namun, entah dengan ayahnya di alam sana, ia hanya dapat berdo'a dalam hatinya.

***

Semalam, Rasyid tidur nyenyak sekali. Bermimpi indah, malah. Bagaimana tidak, rumah kecil itu jauh dari hiruk-pikuk jalan rata. Hanya ada keheningan malam, yang diantaranya terselip suara-suara jangkrik dan nyanyian merdu katak yang terdengar walau sumbernya nampaknya jauh di seberang sawah sana.

Rasyidpun bangun pagi sekali. Jauh lebih pagi dari biasanya, mendahului sinar mentari pertama dari ufuk timur langit. Ia sengaja memasang alarm. Sebelum Paman dan Bibinya terbangun, pemuda itu sudah basah oleh air wudhu, lantas mendirikan sholat malam. Nampaknya, liburan kali ini ingin ia manfaatkan menjalankan kegiatan spiritual yang jarang ia lakukan di hari-hari biasa.

Setelah beberapa raka'at dan belasan menit dihabiskan untuk berdzikir, Rasyid memakai pakaian olahraganya, kaos santai, training hitam, dan tak lupa, sweater berlambang garuda. Ia berencana untuk lari pagi sambil menunggu adzan berkumandang nanti. Namun, ia mendapat ide menarik. Rasyid mengambil bolanya. Dia akan berlari sambil menggiring bola mengitari kampung. Mungkin, ia terilhami oleh anime lawas favoritnya, Captain Tsubasa, yang menganggap bola sebagai temannya dan membawanya kemanapun ia hendak pergi.

Ia menyelipkan bola diantara ketiaknya sambil membukakan pintu depan. Angin sejuk langsung menusuk telapak tangannya. Udara pagi yang belum tercemar zat-zat sampah, menyentuh lembut wajah Rasyid yang tengah bersemangat. Ditutupnya pintu itu dengan rapat, dijatuhkannya bola tepat diantara kedua kakinya, meredam suara jatuhnya. Takutnya, orang lain terganggu. Tak menunggu lama, ia mulai menyepak bola perlahan-lahan sambil berlari-lari kecil menelurusi gang sempit. Ia berlari mengikuti cahaya bulan, yang tampaknya hampir tergambar bulat penuh, diantara satu-dua bintang yang masih terlihat di langit sana.

Rasyid hendak mengambil rute memutari kampung, di mana ia akan melewati jalan utama, memotong jalan lewat balai desa, lau kembali ke daerah pemukiman. Dalam 30 menit, hitungannya, ia sudah kembali ke rumah, tepat sebelum adzan shubuh. Jadi, pertama ia harus memasuki jalan utama. Jalan itu cukup mulus dengan aspal berkualitas, namun tidak cukup lebar untuk dimasuki dua mobil yang berpapasan. Rasyid mulai memainkan bola seperti kucing yang memainkan gumpalan benang di sana. Berlari-lari, meliak-liuk, seolah ada lawan yang menghadang.

Sekali-kali, ia menjuggling bola dengan kakinya, berusaha agar bola tidak nyempling ke kali di sisi kanan atau menghilang diantara padi-padi yang tengah meninggi di sisi lainnya. Yah, bisa dibilang, ini adalah sesi latihan kecil-kecilan yang menyegarkan. Tentu saja, dengan skillnya, mudah saja meliak-liuk di jalanan dan gang-gang kecil, menghindari lubang, tiang, pohon, apa saja. Memindahkan bola dari kaki kanan ke kaki kiri, menggunakan sepatu bagian luar maupun dalam.

Lima belas menit berlalu, ia kembali menyusuri daerah pemukiman. Setengah perjalanan berlalu. Rasyid memutuskan untuk memungut bola, dan ia kembali berlari-lari kecil. Kini, jalanan kembali menerang di bawah lampu-lampu neon dari rumah warga.

Namun, setelah melewati setengah lusinan rumah kecil, ia menyadari ada yang tidak beres. Di ujung penciumannya, ia menghirup bau tak sedap, menyengat sekali.

Beberapa langkah ke depan, di gang sempit yang diapit bata menjulang setinggi dua meter dan 1 sebuah rumah yang lampunya padam-yang perlahan ia yakini tak ada penghuninya, dua orang lelaki setengah dewasa, tengah berjalan dengan langkah lunglai tak seimbang. Tepat di depannya, terlihat seorang wanita yang berjalan terburu-buru. Tidak jelas wanita itu siapa, namun Rasyid tahu dia harus melakukan sesuatu.

Rabu, 06 November 2019

Gawang : Bintang Muda, Bab 3 (Part 1)

Sehari setelah mendapatkan partner baru, Rasyid berpamitan kepada pelatih dan beberapa rekan yang tersisa untuk pulang kampung. Pelatih kepala memberi waktu 3 minggu jeda bagi para pemain dan staff sebelum menjalani sesi latihan kembali. Dia tahu mereka membutuhkan liburan, melepaskan kepenatan setelah berlatih dan berjuang habis-habisan. Baginya, itu cukup penting, karena ia sendiri bisa memiliki waktu untuk memikirkan apa yang akan ia lakukan dengan timnya untuk mempersiapkan kompetisi tahun depan. Selain mendapatkan banyak waktu untuk menjalani hobinya, memancing.

Rasyid sendiri, entah ia senang atau tidak mendapat jatah liburan ini. Ya, kehilangan kedua orang tua, apalagi ia adalah anak tunggal, membuat mengembara adalah jalan terbaik, mengingat tak ada lagi rumah yang hangat sebagai tempat berpulang. Namun setidaknya, ia memiliki beberapa sanak saudara di kampung, yang mesti ia sapa dan tanyai kabarnya. Dia juga memiliki sepupu yang masih kecil, yang baru memiliki dua gigi kelinci di depannya sehingga tawanya teramat menggemaskan. Dia sudah menganggap anak itu seperti adiknya sendiri. Maka, ia memutuskan untuk memberinya hadiah kecil hari ini, sebuah mainan bus berwarna biru, yang mirip sekali dengan bus yang akan ia tumpangi pagi ini.

Tak terlalu banyak barang yang dikemas, kebanyakan pakaian dan barang pribadi ia sengaja simpan di kamar apartemennya. Rasyid tidak berniat akan menghabiskan waktu terlalu lama di kampungnya, mungin 10 hari atau paling lama 2 minggu. Anak malanh itu merasa ia hanya akan menjadi beban bagi saudara-saudaranya di sana. Selain itu, di sana, tak banyak pula yang bisa ia lakukan. Lalu, bagaimana dengan teman seperjuangannya dulu? Kebanyakan dari mereka juga sudah pergi merantau, dan musim berliburnya tentu berbeda sama sekali dengannya. Sedangkan, beberapa yang menetap di kampung, biasanya perempuan, mereka sudah berumah tangga. Mereka sudah menjadi ibu muda, menggendong bayi dengan wajah yang masih remaja.

Rasyid berdiri di pinggir jalan, menunggu ada angkutan umum yang lewat. Entah itu angkot, taksi, maupun bajaj, apapun yang bisa mengantarkannya ke terminal yang hanya berjarak 20 menit perjalanan. Mungkin ia boleh saja berharap ada sebuah Lamborghini yang lewat, tapi mana mau menaikan penumpang sepertinya. Tak lama, sebuah bajaj merah ibukota terlihat mendekat. Ia menyetop bajaj itu, lantas naik dan menyerukan tempat tujuannya. 20 menit terlewat tak terasa, yang terasa hanyalah getaran dari suara knalpot bajaj itu, yang asapnya mengepul seperti baru saja ada gunung api yang erupsi. Sebuah bus tujuannya terlihat sedang menepi. Ia cepat-cepat memberi sopir bajaj ongkos pas, meraih tasnya gendongnya, lalu berlari kecil kearah bus itu.

"Tahu, tahu, tahu, tahu.."

"Cangcimen, cangcimen, cangcimen, cangcimen.."

"Aqua, Aqua, Aqua, Aqua, Aqua.."

"Tongsisnya, tongsisnya, tongsisnya.."

"Sol Sepatuuu!"

Suasana langsung ramai dengan pedagang yang silih berganti menjajakan dagangannya. Bahkan ada tongsis, sampai sol sepatu segala. Yah, pemuda itu sudah merebahkan punggungnya di sebuah kursi dekat jendela, memasukan headset, lantas tertidur.

Tak terasa sudah sampai tujuan. Tidak selelap itu ia tertidur. Terkadang ia terusik dengan bapak-bapak gembrot yang duduk di sebelahnya, dengan bau badan yang menyengat. Ia menuruni bis dan melanjutkan perjalanan menuju desanya dengan menumpangi ojek.

Ia berhenti di sebuah rumah, rumah bercat biru tua yang kini terlihat sudah pudar. Sebuah pohon mangga menjulang tinggi di halaman depannya, teringat sekali ia pernah naik ke sana, tergoda sebuah mangga yang sudah menguning. Salahnya, ia melakukannya di bulan puasa, di saat ia sedang berpuasa. Akibatnya fatal, ia jatuh menggedebuk ke tanah, menyisakan penyesalan mendalam. Tak lama melamun, muncul seorang pria dewasa dengan kumis tebal dengan kaos oblong dari dalam rumah. Seraya memanggil, "Rasyid? Si anak ajaib sudah sampai! Sudah libur ya? Ayo, masuklah!"

Gawang : Bintang Muda, Bab 2 (Part 3)

***

"Wah wah, keren sekali ayahmu itu, Sid." Kata Andre.

"Yah, dia memang pahlawanku." Jawab Rasyid.

"Jadi, di mana ayahmu? Mungkin, bolehkan libur musim panas nanti, aku mampir." 

"Eh.. Ya, tentu. Nanti akan kuajak kau ke pemakaman dekat rumahku di kampung."

"Oke kalau be- eh, pemakaman?" Andre terheran.

"Iya, beliau sudah meninggalkanku 2 tahun lalu." Jawab Rasyid dengan nada lemas.

"Oh.. Maaf kalau begitu, aku turut berduka." Andre menundukan kepalanya.

"Tenang saja, Dre. Santai saja, he-he." Rasyid memaksakan dirinya tersenyum, mencoba menghibur dirinya sendiri.

Percakapan kini terasa canggung. Andre hanya menatap sisa kopi cappucinonya yang mulai dingin. Sedangkan Rasyid mengetuk-ngetuk pelan meja dengan jari telunjuknya. Sepertinya, ia sedikit bernostalgia dengan percakapan tadi. Tak lama, pelayan kembali dengan secangkir kopi hangat yang baru diatas nampan, Rasyid mengangguk tanda berterima kasih. Selang beberapa detik, ia mencicipi kopi itu sambil mengerenyitkan dahi karena panas, lidahnya terbakar. Andre yang memperhatikan tersenyum setengah tertawa.

"Hei, Sid?"

"Iya?" Jawab Rasyid sambil mengipas-ngipas tangan ke mulutnya.

"Kau masih muda, dan kau harus banyak belajar." Andre mencoba memulai topik pembicaraan baru.

"Yah.. Aku tahu, sih. Kalau begitu, kau akan mengajariku, benar bukan?" Anak muda itu tampak bersemangat lagi. Matanya yang sempat redup, kembali bersinar terang.

"Tentu saja. Aku kan, partnermu. Yah, partner barumu." Andre mengangguk-ngangguk, menatap ke langit-langit, membayangkan ia adalah Batman yang tengah menghajar penjahat bersama Robin, pendampingnya. 

"Aku akan memberimu tips pertama, Sid."

"Tips untuk apa?"

"Tips, agar kau bisa menjadi starting line-up musim depan."

"Itu sepertinya akan membantuku. Baiklah, apa itu, Dre?"

"Sederhana saja. Jangan buat masalah dengan rekan setim-mu, apalagi dengan pelatih. Dan, cobalah lebih akrab dengan semua."

"Oh, oke. Aku tak pernah punya masalah sejak pertama aku masuk."

"Iya, kau memang begitu. Tapi, kau selalu mengasingkan diri dari yang lain. Ayolah, kau memang junior, yang paling muda. Tapi setidaknya, bergaulah sedikit. Jangan malu-malu. Dengan begitu, kau akan belajar banyak. Dan ingat sekali lagi kataku, jangan menjadi pemain bermasalah. Kau tahu kan, sebelum kau masuk, ada pemain yang didepat pelatih karena punya banyak masalah dengan kedisiplinan sehingga mengganggu rekan yang lain."

"Oh iya iya, ya aku tahu." Rudi mengangguk-ngangguk. Sebenarnya, pemain yang didepak adalah pemain gelandang, satu posisi dengannya. Sehingga dengan keluarnya pemain itu, membuat Dani menjadi satu-satunya orang berposisi sebagai playmaker. Hal itu menjadi berkah bagi Rasyid, karena pelatih terpaksa membawanya dari tim junior, dipromosikan ke tim utama. Mungkin, seharusnya ia berterima kasih pada pemain itu.

Mereka mengobrol sekitar beberapa jam lagi, lebih akrab. Sampai jam menunjukan pukul 11 malam lebih, Rasyid mendesak untuk pulang.

"Baiklah, baiklah. Akan kuantar kau sampai depan rumahmu." Ucap Andre dengan kebaikan hatinya kepada partner barunya.

Akhirnya, mereka berdua meninggalkan kafe, melangkah keluar. Rasyid berbelok ke arah kanan, ke tempat mobil hitam tadi terparkir. Tapi Andre memanggilnya.

"Hei, mau ke mana Sid?"

"Eh, itu.. Mobilmu kan?"

"Lah.. Siapa bilang? Ini mobilku." Andre menunjuk sebuah mobil sedan kolot keluaran tahun '99-an. Rasyid menepuk jidatnya.

Minggu, 03 November 2019

Gawang : Bintang Muda, Bab 2 (Part 2)

"Sampai mana kita tadi? Oh, iya. Kau bisa memahan bola lebih lama dari siapapun. Saranku, kemampuan menggocekmu harus ditingkatkan lagi, itu akan berguna. Kau bisa melewati beberapa untuk membuka ruang bagi rekan-rekanmu, tapi bukan untuk dirimu sendiri. Ngomong-ngomong, aku berani bertaruh, kau pasti mengidolakan pemain dari Brazil ya?" Andre kini memicingkan matanya, menunggu jawaban.

"Yah.. Beberapa sih." Sebenarnya, jauh dari lubuk hatinya, tidak ada. "Dan.. Aku lebih lebih memperhatikan gaya bermain playmaker dari Spanyol."

"Tepat. Andres Iniesta, kan?" Andre bertanya tidak sabaran.

"Ya, bisa jadi." Rasyid tersenyum nyengir. Tebakan Andre payah sekali. "David Silva, tepatnya. Gaya bermainnya cukup menarik."

"Itu dia. Makanya, aku punya firasat bagus kalau kamu yang bermain di belakangku nanti. Sebagai seorang playmaker, pencari ruang bebas, dan pengumpan juga." Terlihat bersemangat.

"Iya, Dre. Kau sudah mengatakan itu tadi." Ketus Rasyid.

"Baiklah kalau begitu. Kita cukupkan dulu pembahasan tentang sepakbola. Mari kita mulai mendengarkan ceritamu." Dia mencoba mengubah topik pembicaraan.

"Eh, kau ingin mendengar ceritaku? Masa laluku, maksudnya?" Rasyid bertanya.

"Iya, bung. Cerita saja."

"Baiklah kalau begitu.."

Akhirnya, pemuda itu mulai mengkisahkan siapa Rasyid al-Fatier itu sebenarnya. Pertama, ia menceritakan kedua orang tuanya. Ibunya seorang gadis yang cantik, menikahi ayahnya yang berusia 25 tahun, saat wanita itu berumur 18 tahun. Dua tahun kemudian, Rasyid lahir, bersamaan dengan meninggalnya wanita itu. Rasyid hanya pernah merasakan dekapan sang ibu, sekali seumur hidup saja.

"Wah, malang sekali nasibmu, Sid." Andre menatap Rasyid yang sedikit berkaca-kaca. "Baiklah, lanjutkan saja."

Pemuda itu melanjutkan ceritanya. Ia melanjutkan hidup bersama sang ayah, seorang pegawai negeri yang berkarir menjadi guru. Ia mendidik dan membesarkan anaknya dengan penuh kasih sayang. Untuk seorang suami yang ditinggal muda istrinya, ia terbilang lelaki yang tangguh, amat penyabar. Bahkan, ia berjanji tak akan menikah lagi, guna menghormati cinta almarhum istrinya.

Sejak masuk sekolah, sang ayah menggenjot kemampuan akademis Rasyid. Hasilnya, kelas 5 SD, ia berhasil memenangkan lomba olimpiade matematika, membawa pulang medali dan piagam dengan bangga. Dia khususkan medali kebanggaan itu bagi sang ibu.

"Wah wah.. Ternyata pemuda ini kutu buku juga ya." Tatapan Andre menggoda Rasyid untuk bertingkah. Tapi dia hanya diam saja. "Hmm yah, kau tahu, itu bagus. Lanjutkan."

Kejeniusan akademis Rasyid berlanjut hingga SMP. Ia masuk sekolah favorit setelah 4 tahun berturut-turut meraih peringkat 1 di kelas. Tak ayal, di sana ia digenjot lebih giat lagi, mendapat beberapa medali lagi. Namun, di sana pula ia mulai berkenalan dengan dunia sepakbola, di sebuah ekstrakulikuler yang dipilihnya semasa kelas 8. Ia menjadi lebih rajin berlatih dengan bola daripada buku-buku. Sampai prestasinya merosot, dan ayahnya melarang Rasyid mengikuti ekstrakulikuler itu lagi.

Awalnya, ia mematuhi keinginan ayahnya. Tapi kecintaannya pada sepakbola mulai memuncak. Ia memang beberapa kali tidak mengikuti kelas sepakbola itu, tapi kemudian ia sering ikut berlatih dan bertanding di sana. Bakatnya tumbuh dan berkembang lebih cepat daripada dirinya mengotak-atik soal matematika. Tak heran, anak itu rela berbohong pada ayahnya, selalu pulang sore dengan alasan mengerjakan tugas. Padahal, ia bertanding dengan SMP sebelah dan mencetak banyak gol kemenangan bagi sekolahnya. Sesuatu yang entah menjadi kebanggaan, atau malah menjadi dosa besar bagi dirinya.

Akan tetapi, anak itu berusaha membayarnya dengan mengembalikan prestasi akademiknya. Tidak mudah, memang. Ia sempat menjadi pesakitan selama beberapa minggu, namun usahanya tak sia-sia. Sampai akhirnya, ia dinyatakan sebagai lulusan terbaik, dan.. Pemain sebakbola terbaik di sana. Ayahnya mendengar hal itu, yang kedua. Ia menganggap selama ini anaknya terlalu pintar, sampai-sampai ayahnya sendiri dikelabui. Sang ayah kecewa, namun berusaha untuk tidak marah.

Selama perjalanan pulang, tak ada sepatah katapun keluar dari mulut ayahnya. Rasyid bimbang, entah harus berkata apa. Sesampainya di rumah..

"Nak, kalau seperti itu maumu, ayah.." Ayahnya menelan ludah. "Ayah akan menyekolahkanmu di sekolah yang prestasi sepakbolanya bagus. Akan ayah carikan beasiswa yang terbaik, sampai kamu mendapatkan apa yang kau inginkan, nak."

Rasyid tak bisa menahan air matanya menetes. Mulai saat itu, ia berjanji pada ayahnya, ia tak akan menyia-nyiakan pengorbanan ayahnya selama ini. Dia akan menjadi seorang bintang sepakbola, pemain jenius yang akan membawa kebanggaan bagi siapapun yang ada di dekatnya.

***