Rasyid cepat-cepat mengambil tindakan. Dia terus melangkah mendekati kedua lelaki itu. Setelah jarak mereka dirasa cukup, ia melambungkan bola hampir satu meter tingginya. Kakinya mengambil ancang-ancang kuat. Pada saat yang tepat, dihempaskannya bola itu menggunakan kaki terkuatnya.
Dia melakukan tendangan setengah voli dengan kaki kanannya. Bola melesat seperti peluru di tengah remang-remang cahaya bulan. Hanya saja, bola itu sedikit melintir diudara, lalu tepat menghantam kepala bagian belakang lelaki di sebelah kiri. BLETAK!!! Lelaki itu terhuyung-huyung, lalu terjatuh. Pria di sebelahnya terkaget-kaget, begitupun wanita di depannya.
Namun, kejadian itu belum selesai sampai di sana. Bola itu berputar dan terus memantul kembali ke arah Rasyid. Pemuda itu berlari cepat ke arah bola yang memantul-mantul, lantas menghajarnya lagi dengan kaki kirinya. Bola itu kembali melesat, lebih tajam. Menghujam pria satunya lagi yang sedang berjongkok melihat keadaan temannya yang tergelatak tak berdaya. Nasib, pantatnya malah menjadi sasaran bola, lalu ia meluncur jatuh tepat diatas tubuh lelaki pertama.
Rasyid berjalan mendekatinya.
"Jangan macam-macam! Pergi sana!" Rasyid mencoba membentak keras. Si wanita nampaknya sudah menjaga jarak beberapa langkah di depan.
Tak lama, kedua lelaki itu berusaha berdiri, meski masih terhuyung-huyung. Kini, gelagatnya terlihat lebih jelas. Yang satu, pria tinggi bertato dengan rambut panjang sedikit acak-acakan. Entah kapan terakhir kali ia berkeramas, namun tampaknya, keluarga kutu sudah hidup rukun di sana. Yang satu lagi, pria dengan rambut gundul dengan tato, di tangan kirinya. Soal gambar apa yang terlihat di sana, sepertinya kuda jingkrak yang bersayap. Kedua mata mereka merah, bau tak enak semerbak meracuni udara.
"Pergi!" Rasyid sekali lagi mencoba mengeluarkan amarahnya. Demi melakukan hal itu, sepertinya ia harus mengeluarkan seluruh emosi dan kebencian yang sudah terpendam bertahun-tahun lamanya.
Akhirnya keduanya berdiri tegak, sambil berpegangan pada tembok bata, lantas pergi melewati Rasyid begitu saja. Mereka tak berani menatap Rasyid, tapi anak muda itu sebaliknya, menatap galak. Bau semakin menyeruap, sampai-sampai ia menutup hidung dengan kedua tangannya. Langkah mereka lunglai seperti mayat hidup, menggapai-gapai tembok di sebelahnya. Kalau saja suara erangan yang keluar meraka bukanlah "aduuuuh" atau "aaaw" panjang, tentunya mereka sudah mirip zombi-zombi di dalam game Resident Evil.
Rasyid kembali melangkah ke depan, mencari-cari bola kesayangannya. Ternyata, bola itu kini ada di hadapan wanita tadi. Wanita itu nampaknya baru berusia 20-an. Ia mengenakan celana panjang, rambutnya terurai sampai ke bahu, jaket levis berwarna biru melekat di badannya, dan kakinya dihiasi sandal yang datar. Ia sudah berbalik dari tadi, menatap Rasyid dengan wajah.. Entahlah, masih terlalu gelap dan jauh.
Wanita itu meraih bola yang berada tepat di bawah kakinya. Lantas, Rasyid mendekatinya.
"Terima kasih, mas.. Eh, dek." Wanita itu memberikan bolanya dengan dua tangan. Rasyid menerima bola itu, juga dengan kedua tangannya, sampai-sampai keduanya sempat bersentuhan.
"Eh, iya, kak.. Kembali." Rasyid tersenyum kikuk. Pertama, karena ia dipanggil dek, dan salahnya, ia memanggil kak. Padahal, usianya sudah 19. Ia berpikir, mungkin, wanita itu lebih tua dari kelihatannya, atau memang wajahnya terlalu imut untuk seorang pesepakbola. Dan kedua, ia baru saja menyentuh sesuatu yang hangat dan lembut. Dia sadari, itu adalah tangan wanita di depannya.
"Hati-hati, laki-laki tadi mabuk." Akhirnya, setelah beberapa lama berdiri diantara dingin kecanggungan, Rasyid mengucap beberapa kata. "Mereka sering menggangu warga di sekitar sini, hati-hati."
"Iya, aku tahu, sih. Makanya, terima kasih banyak ya. Aku sudah dag-dig-dug dari tadi." Jawab si wanita. Kini, Rasyid bisa melihat wajahnya, mencoba mengenali. Tampaknya, wanita itu bukan warga sini.
"Bukan asli sini ya, kak?"
"Bukan, aku cuma menginap beberapa malam di kampung ini. Kepentingan keluarga."
"Oh, pantas saja. Orang-orang sudah jarang lewat jalan ini. Soalnya, selain gangguan orang-orang kacau tadi, katanya, yah.. Rumah kosong ini, ada penunggu-nya." Demi mendengar kalimat itu, si wanita langsung bergidik. Bulu-bulu halusnya berdiri.
"Oh, begituya. Kalau begitu.. Arah ke balai desa, lewat mana ya? Aku menyimpan motorku di sana. Dan.. Sepertinya aku tersesat."
"Oh, itu sekitar 10 menit dari sini. Kebetulan, saya juga mau ke arah sana." Rasyid menjawab.
"Syukurlah.. Eh, oke, ayo." Wanita itu sudah tidak sabar melangkahkan kakinya, bahkan lebih cepat daripada sebelumnya. Rasyid mengikuti di belakangnya.
Setelah melewati gang gelap itu, wanita itu melambat, menyetarakan langkahnya agar sejajar denga Rasyid.
"Jadi.. Bermain bola dini hari?" Wanita itu memulai kembali topik pembicaraan.
"Ah.. Sebenarnya, olahraga saja." Dia asal menjawab.
"Begitu ya. Omong-omong, siapa namamu? Kan tidak enak, kita berjalan berduaan di pagi buta, tapi tidak kenal sama sekali."
"Oh iya, namaku Rasyid. Dan.. Kakak?" Mereka berjalan sambil bertatapan muka, tanpa takut tersandung atau menginjak sesuatu.
"Namaku Meilania, teman-temanku biasa memanggilku Mei, atau Nia." Wanita itu kini nampak lebih akrab, membuat Rasyid merasa lebih canggung.
"Oh, kak Mei ya."
"Panggil Mei saja."
"Baiklah, He-he.."
Yah, perkenalan yang cukup aneh bagi seorang Rasyid, apalagi sebelumnya ia tak pernah seperti itu. Berjalan berdua di jalanan sepi. Dengan seorang wanita pula.
"Baiklah, Rasyid. Kita sudah sampai." Kata wanita itu, membuyarkan lamunan Rasyid.
"Benarkah? Oh-iya." Rasyid menghentikan langkahnya. Menatap sebuah bangunan persegi yang dibuat agak tinggi. Di pinggirannya, tepat di bawah pohon, beralaskan tanah yang sedikit becek, terletak sebuah motor berwarna pink. Rasyid menebak-nebak, itu adalah motornya Mei.
"Terima kasih ya, kamu pria yang baik, Rasyid." Pipi Rasyid memerah dibuatnya. "Iya, maksudku.. Kau tahulah. Aku harus kembali ke ibukota, mengejar waktu. Kita berpisah di sini, ya."
"Oh, iya kalau begitu, hati-hati Mia." Pemuda itu merasakan sesuatu yang aneh. Tapi, ia tahu pasti, entah dari mana, suatu saat nanti mereka akan bertemu lagi.
Ia masih berdiri di sana, memperhatikan wanita itu mempersiapkan diri di atas motornya. Terlihat, Mei memakai sarung tangan, helm, dan masker. Perjalanan yang wanita itu tempuh akan lumayan panjang, sekitar 1 jam perjalanan menggunakan kendaraan roda dua. Tentunya, jika ia berhasil mendahului kemacetan ibu kota.
Tak lama, Mei menstarter motor itu. Mesin motor mendesing, mulai menyala. Lampu kendaraan bersinar terang, namun jelas-jelas tidak seterang apa yang dirasakan Rasyid saat ini. Wanita itu melihat ke arah Rasyid, nampaknya sadar ia masih diperhatikan, lalu ia mengangguk kepadanya. Mei menarik gas dengan tangan kanannya, bersiap mengarungi pagi.
"Eh, tunggu, Mei-" Rasyid tahu ia sudah terlambat. Tadinya, ia ingin meminta nomor kontak atau apa.. Tapi yang terjadi adalah, motor Mei melintir di atas tanah licin, nyaris terjatuh. Rasyidpun tersentak, berusaha menghampiri motor yang setengah miring itu secepat ia mengejar bola liar di depan gawang.
"Kamu tidak apa?" Tanya Rasyid sambil memegangi wanita itu, membantunya menstabilkan motornya.
"Tidak kok, hanya melintir. He-he.." Tawanya itu tertutup masker, menutupi rasa malunya.
"Oke kalau begitu. Sekarang, coba lagi ya, hati-hati dalam.." Belum lagi Rasyid menyelesaikan kalimatnya, Mei sudah menarik gas. Roda motornya berputar penuh, semakin cepat malah, di atas tanah yang kini menggembur.
"Mei!" Rasyid mencoba memanggil wanita itu ditengah raungan mesin motor. Sepertinya Mei hampir menggila, lumpur menciprat ke mana-mana. Ia terus memaksa menarik gas, motornya semakin stuck, rodanya semakin terbenam, membuat Rasyid tertawa sekaligus prihatin melihatnya.
Tadinya, ia hendak membantu mendorong, akan tetapi keajaiban muncul beberapa menit kemudian. Lumpur menciprati wajahnya dengan telak. Saat ia sadar, Mei sudah melaju dengan hanya membunyikan klaksonnya sekali. Mungkin seharusnya, hal itu berarti "Maaf!"
Seiring menghilangnya suara kendaraan tadi, matahari sudah muncul.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar