Sehari setelah mendapatkan partner baru, Rasyid berpamitan kepada pelatih dan beberapa rekan yang tersisa untuk pulang kampung. Pelatih kepala memberi waktu 3 minggu jeda bagi para pemain dan staff sebelum menjalani sesi latihan kembali. Dia tahu mereka membutuhkan liburan, melepaskan kepenatan setelah berlatih dan berjuang habis-habisan. Baginya, itu cukup penting, karena ia sendiri bisa memiliki waktu untuk memikirkan apa yang akan ia lakukan dengan timnya untuk mempersiapkan kompetisi tahun depan. Selain mendapatkan banyak waktu untuk menjalani hobinya, memancing.
Rasyid sendiri, entah ia senang atau tidak mendapat jatah liburan ini. Ya, kehilangan kedua orang tua, apalagi ia adalah anak tunggal, membuat mengembara adalah jalan terbaik, mengingat tak ada lagi rumah yang hangat sebagai tempat berpulang. Namun setidaknya, ia memiliki beberapa sanak saudara di kampung, yang mesti ia sapa dan tanyai kabarnya. Dia juga memiliki sepupu yang masih kecil, yang baru memiliki dua gigi kelinci di depannya sehingga tawanya teramat menggemaskan. Dia sudah menganggap anak itu seperti adiknya sendiri. Maka, ia memutuskan untuk memberinya hadiah kecil hari ini, sebuah mainan bus berwarna biru, yang mirip sekali dengan bus yang akan ia tumpangi pagi ini.
Tak terlalu banyak barang yang dikemas, kebanyakan pakaian dan barang pribadi ia sengaja simpan di kamar apartemennya. Rasyid tidak berniat akan menghabiskan waktu terlalu lama di kampungnya, mungin 10 hari atau paling lama 2 minggu. Anak malanh itu merasa ia hanya akan menjadi beban bagi saudara-saudaranya di sana. Selain itu, di sana, tak banyak pula yang bisa ia lakukan. Lalu, bagaimana dengan teman seperjuangannya dulu? Kebanyakan dari mereka juga sudah pergi merantau, dan musim berliburnya tentu berbeda sama sekali dengannya. Sedangkan, beberapa yang menetap di kampung, biasanya perempuan, mereka sudah berumah tangga. Mereka sudah menjadi ibu muda, menggendong bayi dengan wajah yang masih remaja.
Rasyid berdiri di pinggir jalan, menunggu ada angkutan umum yang lewat. Entah itu angkot, taksi, maupun bajaj, apapun yang bisa mengantarkannya ke terminal yang hanya berjarak 20 menit perjalanan. Mungkin ia boleh saja berharap ada sebuah Lamborghini yang lewat, tapi mana mau menaikan penumpang sepertinya. Tak lama, sebuah bajaj merah ibukota terlihat mendekat. Ia menyetop bajaj itu, lantas naik dan menyerukan tempat tujuannya. 20 menit terlewat tak terasa, yang terasa hanyalah getaran dari suara knalpot bajaj itu, yang asapnya mengepul seperti baru saja ada gunung api yang erupsi. Sebuah bus tujuannya terlihat sedang menepi. Ia cepat-cepat memberi sopir bajaj ongkos pas, meraih tasnya gendongnya, lalu berlari kecil kearah bus itu.
"Tahu, tahu, tahu, tahu.."
"Cangcimen, cangcimen, cangcimen, cangcimen.."
"Aqua, Aqua, Aqua, Aqua, Aqua.."
"Tongsisnya, tongsisnya, tongsisnya.."
"Sol Sepatuuu!"
Suasana langsung ramai dengan pedagang yang silih berganti menjajakan dagangannya. Bahkan ada tongsis, sampai sol sepatu segala. Yah, pemuda itu sudah merebahkan punggungnya di sebuah kursi dekat jendela, memasukan headset, lantas tertidur.
Tak terasa sudah sampai tujuan. Tidak selelap itu ia tertidur. Terkadang ia terusik dengan bapak-bapak gembrot yang duduk di sebelahnya, dengan bau badan yang menyengat. Ia menuruni bis dan melanjutkan perjalanan menuju desanya dengan menumpangi ojek.
Ia berhenti di sebuah rumah, rumah bercat biru tua yang kini terlihat sudah pudar. Sebuah pohon mangga menjulang tinggi di halaman depannya, teringat sekali ia pernah naik ke sana, tergoda sebuah mangga yang sudah menguning. Salahnya, ia melakukannya di bulan puasa, di saat ia sedang berpuasa. Akibatnya fatal, ia jatuh menggedebuk ke tanah, menyisakan penyesalan mendalam. Tak lama melamun, muncul seorang pria dewasa dengan kumis tebal dengan kaos oblong dari dalam rumah. Seraya memanggil, "Rasyid? Si anak ajaib sudah sampai! Sudah libur ya? Ayo, masuklah!"
Tidak ada komentar:
Posting Komentar