Sabtu, 23 November 2019

Gawang : Bintang Muda, Bab 5

Seminggu telah berlalu. Rasyid menghabiskan waktu-waktu kosong bersama Andre, kebanyakan untuk melatih kebugaran fisiknya. Mereka menggunakan fasilitas gym yang berada di dalam gedung tepat di seberang apartemen para pemain. Pemain lain pun mulai berdatangan. Yang paling cepat adalah sang kapten. Sedangkan Dani adalah pemain yang terakhir datang. Kemudian, mereka senua bergabung dalam latihan fisik. Apartemen dan ruang-ruang latihanpun ramai kembali.

Esok harinya, pelatih tiba dan langsung mempersiapkan latihan perdana sore nanti. Ia menyuruh anak asuhnya untuk segera bersiap-siap. Tak ada satupun yang boleh berleha-leha. Tak ada yang boleh terlambat. Apalagi, mengingat lapangan untuk latihan pun berada di sebelah apartemen. Pak Pelatih memang sangat mengutamakan kedisiplinan. Bahkan, kedisiplinan itu diterapkan dalam pola permainan mereka, harapannya tim ini akan menjadi tim yang sulit ditembus penyerang lawan.

"Hei, Sid. Kamu sudah siap?" Tanya Andre yang berkunjung ke kamar Rasyid.

"Oh, tentu saja." Jawab Rasyid matang, sambil meraih sepatu pull khusus yang terletak di bawah ranjang. Sepatu itu diketahui bermerk sepatu nasional dengan warna biru muda mengkilat. Tampak serasi dengan kaos latihan tim yang juga berwarna biru langit.

"Baguslah, kamu selalu siap kapanpun dibutuhkan. Omong-omong, tinggimu bertambah sekitar 7 atau 8 sentimeter ya selama latihan kemarin?" Kata Andre sambil berdiri mensejajarjan pundaknya dengan pundak Rasyid. Kin, tinggi Andre yang berkisar 183 cm kini hanya beberapa senti lebih tinggi dari anak muda itu. 

"Bukan kemarin saja aku latihan, Dre."

"Maksudmu, waktu liburanpun kamu sempat-sempatnya berlatih?"

"Ya, begitulah."

"Bagus kalau begitu. Aku tunggu di bawah ya." Andre yang sudah siap sedari tadi sudah melangkah melewati pintu, lalu berbelok ke kanan melalui tangga. Meskipun tersedia lift, tapi para pemain diharuskan memakai tangga ketika akan dan setelah berlatih. 

Ketika Rasyid hendak keluar, seorang rekan berdiri di depan pintu kamarnya, hendak masuk ke dalam.

"Hei, Rasyid, aku khawatir aku harus mengganggumu sebentar." Ucap seorang pria dewasa yang berusia 25 tahun sambil berdiri tepat di depan pintu. Tubuhnya agak gempal namun padat, berkulit sawo gelap, dengan rambut pendek ala tentara. Dialah Sutikno, seorang gelandang bertahan tim yang terkenal garang di lapangan.

"Oh iya, kemari, masuk saja." Ucap Rasyid dengan santai.

"Rasyid, aku khawatir kamu tidak akan sendirian lagi di kamar ini malam nanti." 

"Oh, begitukah?" Rasyid memang menempati kamar di apartemennya sendirian saja sejak dipanggil ke tim utama. Biasanya, setiap kamar diisi oleh 2 orang pemain. Namun, jumlah pemain menjadi ganjil. "Maksudmu, ada pemain baru ya?" Rasyid mencoba menebak.

"Tepat. Dan dia akan menempati kamarmu. Kata si kapten, orangnya suka kebersihan. Jadi, dia minta kamu untuk segera membereskan kamarmu. Yah, nampaknya tidak terlalu buruk juga, sih." Kata si gelandang sambil menyapu seluruh kamar dengan matanya. Kamar yang tergolong kecil, hanya muat satu ranjang besar, satu lemari dua pintu, dan menyisakan beberapa ruang kosong untuk menyimpan rak sepatu, koper dan lain sebagainya. Tapi Rasyid membuatnya rapi. Semua tersusun pada tempatnya. Kecuali sebuah celana pendek yang tergantung di pegangan lemari.

"Semua, kecuali yang itu." Sambil menunjuk ke arah celana itu.

"Oh iya, he-he." Rasyid tertawa kikuk. "Tapi, tak akan ada pemain yang keluar kan?" 

"Entahlah, Sid." Mendengar jawaban itu, Rasyid mendesah pelan.

"Sudahlah, nanti juga pasti ada kabarnya. Ayo, kita turun." Tikno sudah bergerak duluan.

"O-okee.."

***

Latihan sesi pertama sore ini diawali dengan pemanasan kecil. Dengan dipimpin assisten pelatih, Coach Roger, mereka melakukan gerakan-gerakan peregangan bersama. Sebelum melahap porsi latihan yang berat, otot-otot mereka harus menyesuaikan terlebih duhulu. Barangkali, beberapa dari otot-otot itu telah berubah menjadi lemak sehingga kehilangan fungsinya. Akan tetapi, nampaknya tidak. Para pemain terlihat segar bugar. 

Pun dengan Rasyid, tatap matanya menyala-nyala. Setiap gerakan melentukkan badan dipraktekkannya dengan sentakan yang bersemangat. Anak itu sudah tak sabaran ingin segera memulai musim baru. Dengan semangat yang baru, harapan yang baru, demi mengejar mimpi yang lama tersimpan.

Serangkaian pemanasan diakhiri dengan lari-lari kecil mengelilingi lapangan yang luasnya setengah lapangan bola asli. Mereka berlari-lari sambil mengobrol akrab. Beberapa meleparkan candaan, yang lainnya ikut tertawa. Ada yang saling dorong, sengaja menyenggol badan tingginya Andre, kemudian Andre sengaja menghepaskan tubuhnya dan menabrak pemain lain didepannya. 

Sambil sesekali menghindar, Rasyid ikut tertawa bersamanya. Teringat pesan Andre agar selalu membaur dengan pemain lainnya. Sebelumnya, Rasyid jarang ikut bercanda seperti itu. Alasannya, ia tak mau dinilai pelatih sebagai seorang yang tidak serius ketika sedang berlatih. Tapi kalau dipikir-pikir, apa salahnya? Toh mereka juga tak pernah kena semprot.

Ketika asyik berlari beriringan, seseorang menabrak bahu Rasyid dari samping. Karena lengah dan saking kerasnya, ia terhuyung sampai terjatuh dan mengerang. Rasanya seperti baru saja ditabrak truk Pertamina. Tak terlihat siapa yang melakukannya. Yang jelas, siapapun itu, ia tak niat bercanda. Ia hendak mencari wasit hendak protes, refleks pemain bola. Sayang, tak ada wasit ketika berada dalam sesi latihan. Begitupun pelatih yang sedang berbincang serius dengan assistennya, nampaknya tidak memperhatikan. Rasyid tertinggal di belakang, Andre menghampirinya.

"Kamu tidak apa-apa?" Tanya Andre sambil mengulurkan tangan.

"Aku.. Baik saja." Dia berdiri, lanjut mengejar rombongan.

"Hati-hati dengan Dani." Kata Andre sedikit berbisik.

"Oh, oke." Dia sekarang tahu siapa yang mengusilinya.

Setelah beberapa putaran yang sukses melumasi otot-otot dengan keringat, assisten menghampiri mereka, lalu membimbing anak asuhnya melanjutkan sesi latihan. 

Sesi itu diawali dengan lari bolak-balik melewati garis. Para pemain diharuskan melakukan sprint terbaiknya secara bergantian. Mereka dibagi dua baris, setiap baris dibagi dua kelompok yang saling bersisian. Masing-masing orang dari setiap baris beradu cepat. Kali ini, Rasyid bersisian dengan Dani. Dia berjaga-jaga, takut dihempaskan lagi seperti sebelumnya. Akan tetapi, ia menepis pikiran itu. Ia tak mau berprasangka buruk pada Dani. Barangkali ia terpeleset, atau apalah. Dan, semua berjalan mulus, dan ia lebih cepat menginjak garis finish sedetik saja unggul dari Dani.

Sesi selanjutnya adalah lari zig-zag. Kemudian disusul dengan lari halang lintang dan dribble zig-zag. Sepertinya, latihan pertama ini dikhususkan untuk mengembali sentuhan para pemain. 

Di tengah-tengah kesibukan itu, terlihat seorang pria tinggi dengan sepatu olahraga dan kaos hitam polos terlihat berjalan bersama seorang yang lebih tua darinya, rambutnya tampak berwarna putih. Mereka berjalan dari gerbang depan menuju tempat di mana pelatih berada, di sisi lapangan tempat biasa ia memantau anak asuhnya berlatih.

Kedua orang asing itu bersalaman dengan pelatih. Orang tua berambut putih tampak banyak berbincang akrab. Keduanya mungkin memiliki umur yang tak jauh terpaut berbeda. Mungkin saja mereka seangkatan, sehingga mereka tampak nyambung sekali di sana.

Si pria tinggi hanya berdiri diam diantara keduanya. Nampaknya, ia hanya memperhatikan obrolan mereka. Sesekali, ia memandang ke arah pemain-pemain di lapangan yang luas. Ia terlihat antusias. Rasyid sekali mendapatkan tatapan matanya. Pandangan orang itu sangat tajam, jauh lebih tajam dari pedang yang dipegang Kapitan Patimura dalam uang lembaran lama pecahan seribu rupiah yang jadul. Namun, instingnya mengatakan, orang itu akan berperan banyak dalam kehidupannya.

Tak terasa, beberapa jam kemudian latihan usai. Pria misterius dengan orang tua itupun sudah lenyap entah ke mana. Rasyid tidak sempat memperhatikannya lagi. Semua pemainpun kembali ke penginapan.

Di saat membuka pintu kamarnya, di sinilah ia mematung dan terkejut. Di dalam sana, sudah berdiri seorang pria tinggi sedang menatap keluar jendela yang dibukanya selebar mungkin. Sesaat, Rasyid menatap punggungnya, sampai pria itu berbalik ke arah Rasyid. Pandangan mereka bertemu, saling menatap tajam. Rasyid semakin mematung. Begitu kuat aura yang keluar dari pria itu. Aura yang menakutkan, begitu mengeksploitasi.

"H-Hai.." Rasyid berusaha untuk menyapa ramah. "Kamu.. Pemain baru itu ya?" Akhirnya, kalimat itu keluar dari mulutnya.

Si pria hanya mengangguk kecil. Senyum tipis terlihat di bibirnya, lalu ia berbalik lagi ke arah pemandangan di jendela. Rasyid menelan ludah. Ini akan menjadi malam yang panjang baginya. Panjang sekali.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar