Kamis, 07 November 2019

Gawang : Bintang Muda, Bab 3 (Part 2)

"Apa kabarmu, nak?" Pria itu bertanya sambil menepuk-nepuk pundak Rasyid. Bapak berkumis itu adalah pamannya, adik dari sang ayah. Wajahnya terlihat cerah sekali melihat keponakan kebanggannya sudah pulang.

"Baik, Mang. Amang terlihat bugar sekali, ya. Kemana si Bibi?" Rasyid bertanya.

"Iya lah, harus begitu. Oh iya, Bi Ema sedang di warung, sebentar lagi ia pulang. Nanti kita makan siang bersama."

Tak lama, Bi Ema datang bersama anaknya yang baru berusia 3 tahun. Anak itu lantas mencoba mengenali, siapa pemuda yang terduduk di kursi ruang tamu bersama ayahnya. Rasyid mengeluarkan mainan tadi, lalu si anak langsung tertawa gembira. Rasyid memangku anak itu, membantunya di kursi sebelahnya. Membiarkannya memainkan bus pemberiannya, dengan senang anak itu berkata "Maacih a Acid!"

Siang itu mereka habiskan dengan mengobrol, lalu makan-makan. Pamannya mengaku turut senang dengan hasil timnya kemarin, apalagi saat melihat keponakannya bermain. Rasyid sedikit merona, setidaknya ia merasa berhasil membanggakan pamannya. Namun, entah dengan ayahnya di alam sana, ia hanya dapat berdo'a dalam hatinya.

***

Semalam, Rasyid tidur nyenyak sekali. Bermimpi indah, malah. Bagaimana tidak, rumah kecil itu jauh dari hiruk-pikuk jalan rata. Hanya ada keheningan malam, yang diantaranya terselip suara-suara jangkrik dan nyanyian merdu katak yang terdengar walau sumbernya nampaknya jauh di seberang sawah sana.

Rasyidpun bangun pagi sekali. Jauh lebih pagi dari biasanya, mendahului sinar mentari pertama dari ufuk timur langit. Ia sengaja memasang alarm. Sebelum Paman dan Bibinya terbangun, pemuda itu sudah basah oleh air wudhu, lantas mendirikan sholat malam. Nampaknya, liburan kali ini ingin ia manfaatkan menjalankan kegiatan spiritual yang jarang ia lakukan di hari-hari biasa.

Setelah beberapa raka'at dan belasan menit dihabiskan untuk berdzikir, Rasyid memakai pakaian olahraganya, kaos santai, training hitam, dan tak lupa, sweater berlambang garuda. Ia berencana untuk lari pagi sambil menunggu adzan berkumandang nanti. Namun, ia mendapat ide menarik. Rasyid mengambil bolanya. Dia akan berlari sambil menggiring bola mengitari kampung. Mungkin, ia terilhami oleh anime lawas favoritnya, Captain Tsubasa, yang menganggap bola sebagai temannya dan membawanya kemanapun ia hendak pergi.

Ia menyelipkan bola diantara ketiaknya sambil membukakan pintu depan. Angin sejuk langsung menusuk telapak tangannya. Udara pagi yang belum tercemar zat-zat sampah, menyentuh lembut wajah Rasyid yang tengah bersemangat. Ditutupnya pintu itu dengan rapat, dijatuhkannya bola tepat diantara kedua kakinya, meredam suara jatuhnya. Takutnya, orang lain terganggu. Tak menunggu lama, ia mulai menyepak bola perlahan-lahan sambil berlari-lari kecil menelurusi gang sempit. Ia berlari mengikuti cahaya bulan, yang tampaknya hampir tergambar bulat penuh, diantara satu-dua bintang yang masih terlihat di langit sana.

Rasyid hendak mengambil rute memutari kampung, di mana ia akan melewati jalan utama, memotong jalan lewat balai desa, lau kembali ke daerah pemukiman. Dalam 30 menit, hitungannya, ia sudah kembali ke rumah, tepat sebelum adzan shubuh. Jadi, pertama ia harus memasuki jalan utama. Jalan itu cukup mulus dengan aspal berkualitas, namun tidak cukup lebar untuk dimasuki dua mobil yang berpapasan. Rasyid mulai memainkan bola seperti kucing yang memainkan gumpalan benang di sana. Berlari-lari, meliak-liuk, seolah ada lawan yang menghadang.

Sekali-kali, ia menjuggling bola dengan kakinya, berusaha agar bola tidak nyempling ke kali di sisi kanan atau menghilang diantara padi-padi yang tengah meninggi di sisi lainnya. Yah, bisa dibilang, ini adalah sesi latihan kecil-kecilan yang menyegarkan. Tentu saja, dengan skillnya, mudah saja meliak-liuk di jalanan dan gang-gang kecil, menghindari lubang, tiang, pohon, apa saja. Memindahkan bola dari kaki kanan ke kaki kiri, menggunakan sepatu bagian luar maupun dalam.

Lima belas menit berlalu, ia kembali menyusuri daerah pemukiman. Setengah perjalanan berlalu. Rasyid memutuskan untuk memungut bola, dan ia kembali berlari-lari kecil. Kini, jalanan kembali menerang di bawah lampu-lampu neon dari rumah warga.

Namun, setelah melewati setengah lusinan rumah kecil, ia menyadari ada yang tidak beres. Di ujung penciumannya, ia menghirup bau tak sedap, menyengat sekali.

Beberapa langkah ke depan, di gang sempit yang diapit bata menjulang setinggi dua meter dan 1 sebuah rumah yang lampunya padam-yang perlahan ia yakini tak ada penghuninya, dua orang lelaki setengah dewasa, tengah berjalan dengan langkah lunglai tak seimbang. Tepat di depannya, terlihat seorang wanita yang berjalan terburu-buru. Tidak jelas wanita itu siapa, namun Rasyid tahu dia harus melakukan sesuatu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar