***
"Wah wah, keren sekali ayahmu itu, Sid." Kata Andre.
"Yah, dia memang pahlawanku." Jawab Rasyid.
"Jadi, di mana ayahmu? Mungkin, bolehkan libur musim panas nanti, aku mampir."
"Eh.. Ya, tentu. Nanti akan kuajak kau ke pemakaman dekat rumahku di kampung."
"Oke kalau be- eh, pemakaman?" Andre terheran.
"Iya, beliau sudah meninggalkanku 2 tahun lalu." Jawab Rasyid dengan nada lemas.
"Oh.. Maaf kalau begitu, aku turut berduka." Andre menundukan kepalanya.
"Tenang saja, Dre. Santai saja, he-he." Rasyid memaksakan dirinya tersenyum, mencoba menghibur dirinya sendiri.
Percakapan kini terasa canggung. Andre hanya menatap sisa kopi cappucinonya yang mulai dingin. Sedangkan Rasyid mengetuk-ngetuk pelan meja dengan jari telunjuknya. Sepertinya, ia sedikit bernostalgia dengan percakapan tadi. Tak lama, pelayan kembali dengan secangkir kopi hangat yang baru diatas nampan, Rasyid mengangguk tanda berterima kasih. Selang beberapa detik, ia mencicipi kopi itu sambil mengerenyitkan dahi karena panas, lidahnya terbakar. Andre yang memperhatikan tersenyum setengah tertawa.
"Hei, Sid?"
"Iya?" Jawab Rasyid sambil mengipas-ngipas tangan ke mulutnya.
"Kau masih muda, dan kau harus banyak belajar." Andre mencoba memulai topik pembicaraan baru.
"Yah.. Aku tahu, sih. Kalau begitu, kau akan mengajariku, benar bukan?" Anak muda itu tampak bersemangat lagi. Matanya yang sempat redup, kembali bersinar terang.
"Tentu saja. Aku kan, partnermu. Yah, partner barumu." Andre mengangguk-ngangguk, menatap ke langit-langit, membayangkan ia adalah Batman yang tengah menghajar penjahat bersama Robin, pendampingnya.
"Aku akan memberimu tips pertama, Sid."
"Tips untuk apa?"
"Tips, agar kau bisa menjadi starting line-up musim depan."
"Itu sepertinya akan membantuku. Baiklah, apa itu, Dre?"
"Sederhana saja. Jangan buat masalah dengan rekan setim-mu, apalagi dengan pelatih. Dan, cobalah lebih akrab dengan semua."
"Oh, oke. Aku tak pernah punya masalah sejak pertama aku masuk."
"Iya, kau memang begitu. Tapi, kau selalu mengasingkan diri dari yang lain. Ayolah, kau memang junior, yang paling muda. Tapi setidaknya, bergaulah sedikit. Jangan malu-malu. Dengan begitu, kau akan belajar banyak. Dan ingat sekali lagi kataku, jangan menjadi pemain bermasalah. Kau tahu kan, sebelum kau masuk, ada pemain yang didepat pelatih karena punya banyak masalah dengan kedisiplinan sehingga mengganggu rekan yang lain."
"Oh iya iya, ya aku tahu." Rudi mengangguk-ngangguk. Sebenarnya, pemain yang didepak adalah pemain gelandang, satu posisi dengannya. Sehingga dengan keluarnya pemain itu, membuat Dani menjadi satu-satunya orang berposisi sebagai playmaker. Hal itu menjadi berkah bagi Rasyid, karena pelatih terpaksa membawanya dari tim junior, dipromosikan ke tim utama. Mungkin, seharusnya ia berterima kasih pada pemain itu.
Mereka mengobrol sekitar beberapa jam lagi, lebih akrab. Sampai jam menunjukan pukul 11 malam lebih, Rasyid mendesak untuk pulang.
"Baiklah, baiklah. Akan kuantar kau sampai depan rumahmu." Ucap Andre dengan kebaikan hatinya kepada partner barunya.
Akhirnya, mereka berdua meninggalkan kafe, melangkah keluar. Rasyid berbelok ke arah kanan, ke tempat mobil hitam tadi terparkir. Tapi Andre memanggilnya.
"Hei, mau ke mana Sid?"
"Eh, itu.. Mobilmu kan?"
"Lah.. Siapa bilang? Ini mobilku." Andre menunjuk sebuah mobil sedan kolot keluaran tahun '99-an. Rasyid menepuk jidatnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar