Selasa, 19 November 2019

Gawang : Bintang Muda, Bab 4

Dua pekan penuh telah Rasyid habiskan di rumah kecil peninggalan ayahnya, yang kini dihuni oleh keluarga kecil pamannya itu. Sebenarnya, setiap hari selama dua pekan itu, ia menjalani hari-hari yang nyaris sama. Ia bangun dini hari, mendirikan shalat, lalu jogging sambil menggiring bola. Nyaris setiap malam pula, ia bermimpi bertemu seorang wanita berjilbab yang sama. Ia merasa aneh, sebelumnya ia tak pernah memimpikan siapapun dalam tidurnya sesering itu. Biasanya sih, selewat ia bermimpi Andre yang jail menukar tali sepatunya sehingga berbeda warna, atau bermimpi melihat sekawanan Pterodactyl menyerang penonton ketika dirinya sedang berlaga.

Ia pun mencoba menelusuri jejak di hari pertama, berharap bertemu wanita yang sama, namun hasilnya nihil. Ia hanya menemukan lubang kehitaman di dekat balai desa, bekas roda motor Mei yang terkubur di sana. Selewat, ia juga mendengar keluhan warga yang mendengar suara bising di sana. Rasyid hanya tertawa kecil mendengarnya.

Lantas, ia berpamitan kepada keluarga kecil di rumah itu, kembali ke ibukota agar bisa berlatih lebih awal. Mungkin, paling awal daripada yang lain. Mengingat liga baru akan bergulir dalam 2 bulan ke depan, dan sesi latihan dimulai satu minggu lagi.

Bukannya tidak betah. Hanya saja, ia tak mau merepotkan keluarga kecil itu. Lagipula, tak banyak yang bisa ia lakukan di sana. Selain jogging di pagi hari (sambil melihat-lihat di gang sempit dan balai desa, berharap barangkali ia bisa bertemu wanita kemarin lagi, yang belakangan selalu muncul di dalam mimpinya), menonton anak-anak kampung bermain bola di lapang desa (sekali-kali Rasyid ikut bermain sambil mengajarkan mereka beberapa trik yang membuat anak-anak itu berdecak kagum), juga sekali-sekali membantu paman melakukan pekerjaan berat (angkut sana-sini, apapun yang bisa membuatnya encok di malam harinya), tak ada yang terlalu istimewa selain kuburan ayah dan ibunya. 

Ya, sebelum berangkat, Rasyid menyempatkan mampir ke sana, membacakan do'a-do'a terbaik sambil menyampaikan rindu pada keduanya. Pun, Rasyid meminta ridho sang ayah, berharap musim depan akan berjalan lebih baik dan lebih baik lagi. 

Dia memandangi kedua gundukan tanah 2×1 itu, mengelus-ngelus batu nisan kedua orangtuanya yang masih berdampingan satu sama lain. Berbagai kenangan sempat muncul di sana, meski tanpa adanya kenangan dari sang ibu. Hari di mana ia memenangkan lomba matematika, hari pertama ia berbohong kepada ayah tentang ekskul sepakbolanya, dan hari pembenaran, ketika ia mengatakan hal sejujurnya pada ayahnya. Kemudian, ia mengingat janjinya. Ia akan memberikan yang terbaik, menjadi pemain terbaik, berharap sang ayah tersenyum lebih kebar di alam sana.

Selepas membersihkan rumput-rumput liar dan daun-daun kering dari kuburan itu, ia mengucap salam lalu beranjak pergi, menapakkan kakinya langkah demi langkah menuju mimpi terbesarnya, mengangkat trofi juara sebanyak-banyaknya.

Dalam perjalanan, ia dihubungi Andre, mengabari bahwa ia sudah berada di apartemen di ibukota. Dia akan membicaran permasalahan kontrak yang akan habis pertengahan musim nanti. Ia berharap manajemen mau memperpanjang kontraknya. Karena jika tidak, ia akan dijual ke klub lain sebelum pertandingan dimulai nanti. Yah, ia teringat perbincangan di kedai kopi lalu, bicara tentang masa lalu Rasyid, partner, masalah di klub, dan.. Oh iya, omong-omong, ia tak tahu menahu masalah yang kini dihadapi Andre. Mungkin seharusnya, ia mulai banyak bertanya soal itu. Setidaknya ia akan memiliki banyak waktu untuk melakukan itu.

Hari Senin, jalanan padat sekali. Sampai-sampai membutuhkan waktu 3 jam untuk hinggap di ibukota, 1 jam lagi untuk sampai di kamar apartemen nya. Siang hari, diluar panas sekali. Ia melemparkan tasnya ke sembarang tempat, lalu merebahkan dirinya diatas kasur empuk ala hotel bintang 4. Dinyakalannya AC, dan segera udara dingin membuat segalanya terasa lebih sejuk dan ringan. 

Dia memejamkan kedua matanya sebentar, mencoba terlelap. Ketika ia membuka matanya kembali..

"Whoaaa!!!"

"Eh-eh, maaf mengagetkanmu, Sid." Tiba-tiba saja Andre sudah berada di sampingnya, terduduk tempat tidurnya. "Tadi aku melihatmu lewat dari kamarku, ya sudah, langsung aku ikuti saja." Jelasnya dengan santai.

"Tidah bisakkah menunggu beberapa menit dulu, Dre?" Tidak ada jawaban dari Andre, ia hanya diam seribu bahasa sambil menatapnya, membuat Rasyid gugup.

"Baiklah, baiklah, tunggu sebentar, aku mau mencuci muka dulu." Rasyid melangkah berat menuju saluran air terdekat. Ia sebenarnya seorang yang menyukai kesendirian. Ia mudah akrab, namun teman yang benar-benar akrab dengannya bisa dihitung jari. Nampaknya, kedekatannya dengan Andre akan menciptakan sesuatu yang baru dalam hidupnya. Tak lama, ia kembali dengan wajah lebih segar, siap mendengarkan keluhan sabahat barunya itu.

"Baiklah, Andre. Aku siap mendengarkan."

***

Andre membenarkan posisi duduknya di ranjang yang empuk itu, mencoba lebih rileks, lalu mulai bercerita panjang lebar. Rasyid mendengarkan di sebelahnya, sambil menyuguhkan buah-buahan dari kampungnya berupa beberapa butir jeruk diatas piring.

Dia memulai cerita dari awal karirnya di klub. Andre awalnya adalah lulusan akademi klub lain, kemudian bermain di liga junior. Setelah beberapa tahun, Andre dikontrak tim ini dengan durasi 3 tahun karena melihat permainannya yang apik sebagai seorang striker jangkung, di samping usianya yang masih muda saat itu, tentunya sangat menjanjikan bagi tim. Tanpa membutuhkan waktu lama, Andre menjadi pilihan utama di pos penyerangan tim. 

Dua musim pertama bahkan dapat dikatakan sangat produktif bagi Andre, di mana ia selalu mencetak dua digit gol di setiap musimnya. Hal itu membawa berkah yang besar bagi tim. Namun, kegacorannya menurun di musim ketiga. Hal itu diawali dengan adanya perpecahan di dalam tim. Permainan tim mejadi acak-acak, yang juga berimbas pada produktifitas para pemain, termasuk Andre. Untungnya, manajemen masih memberi kesempatan bagi Andre dengan perpanjangan kontrak satu tahun lagi.

Namun, bukannya lebih baik, keadaan semakin buruk. Lebih tepatnya di musim lalu, ketika beberapa pemain didepak di pertengahan musim dan tim ini hampir terdegradasi. Kontrak Andre akan habis dalam beberapa bulan lagi, membuat manajemen memiliki pilihan untuk menjualnya pada klub lain. Padahal, dia sendiri sudah merasa betah, dan ia ragu apakah ada tim yang mau membelinya. Jika tak ada, ia bisa menjadi pengangguran, atau lebih buruknya, bermain di liga kasta bawah.

"Yah.. Kau tahu lah, Sid. Sepakbola di zaman sekarang sudah seperti roda bisnis. Beli pemain murah, dijual secara mahal, tanpa mempedulikan prestasi tim. Kau sendiri tahu kan, aku ini masih hebat, masih produktif. Aku yakin, bersamamu aku bisa mengangkat performa tim ini lagi." Andre menghela nafasnya sebentar. "Aku tidak mau meninggalkan klub ini, yah.. Tidak dalam waktu cepat, itupun jika tidak pindah ke klub yang lebih besar."

"Sepertinya, aku mengerti soal itu. Juga tentang klub besar, itu mimpiku juga." Rasyid mengangguk prihatin. "Setidaknya, kau masih punya beberapa bulan, bukan? Kontrakmu akan habis pertengahan musim nanti, ya kan?" Rasyid terlihat membesarkan matanya, mengharapkan jawaban "ya".

"Iya, pertengahan musim nanti. Tapi, tetap saja, aku bisa dijual kapanpun, apalagi klub memiliki hak penjualan sepenuhnya. Mereka yang menentukan masa depanku. Juga kamu, kurasa."

"Nah, kalau itu.. Kurasa, aku tidak setuju, Dre. Masa depan ditentukan oleh diri kita sendiri, oleh apa yang kita lakukan. Orang lain pun hanya memainkan peran mereka masing-masing." Rasyid mengangguk.

"Wah.. Aku baru melihat gaya bicaramu yang seperti itu, Sid. Itu keren sekali." Jawab Andre sambil tersenyum.

"He-he.." Tawa garing Rasyid. "Begini saja, kita akan menghadap manajemen lagi nanti, lalu kau akan membuktikan dirimu sendiri. Yah, aku juga bisa membantu, barangkali." Rasyid mengatakan itu dengan penuh keyakinan.

"Terima kasih, sobat." 

Keduanya mengangguk, menepiskan kepalan tinju masing-masing. Tanda siap bekerja sama.

"Baiklah, kalau begitu aku akan kembali ke kamarku. Selamat beristirahat, sobat." Kata Andre sambil berjalan keluar.

"Oke, silahkan." Jawab Rasyid, sambil melihat jeruk-jeruk di piringnya yang sudah berkurang setengahnya. Yang ternyata, dikantongi Andre. Rasyid menepuk jidatnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar